DELI SERDANG — Pangan lokal sebagai identitas dan warisan leluhur menjadi tema diskusi yang digelar pemuda mahasiswa di Kota Medan. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian “Jong Batak’s Art Festival” yang diselenggarakan komunitas pemuda peduli budaya, Rumah Karya Indonesia.
Dalam diskusi tersebut, peserta menyoroti kondisi pangan Nusantara yang dinilai kian ditinggalkan masyarakat. Mereka menilai konsumsi masyarakat saat ini lebih banyak mengikuti tren kuliner, sementara pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga disebut masih minim yang menjajakan panganan lokal.
Narasumber diskusi, Tonggo Simangunsong, menyampaikan bahwa ketergantungan pada pangan global tidak hanya mengancam kearifan pangan lokal, tetapi juga berpotensi menggerus nilai dan identitas budaya. Karena itu, ia berharap generasi muda dapat mengembangkan pangan lokal dengan kemasan yang menarik agar mampu bersaing di pasar.

