Pontianak – Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) melalui Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Republik Indonesia meresmikan Dapur Sehat Pemasyarakatan di Lapas Kelas IIA Pontianak, Kalimantan Barat. Peresmian dilakukan langsung oleh Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Drs. Irjen Mashudi, dalam rangkaian kunjungan kerja ke wilayah Kalimantan Barat pada Senin (2/3).
Kegiatan ini dihadiri Kepala Kantor Wilayah Pemasyarakatan Kalimantan Barat, para Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT), jajaran petugas pemasyarakatan, serta mitra kerja dan tokoh masyarakat Kota Pontianak.
Dalam sambutannya, Mashudi menyatakan peresmian Dapur Sehat merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk memastikan standar gizi yang layak bagi warga binaan, sekaligus mendukung pembinaan yang lebih berkualitas dan humanis. “Pemasyarakatan bukan hanya soal pembinaan keamanan, tetapi juga memastikan hak-hak dasar warga binaan terpenuhi, termasuk hak atas makanan yang sehat dan bergizi. Ini adalah wujud nyata komitmen kita dalam meningkatkan kualitas layanan,” ujarnya.
Ia menilai peningkatan kualitas konsumsi warga binaan menjadi fondasi penting untuk menciptakan kondisi lapas yang sehat, produktif, dan kondusif. Standar gizi yang baik diharapkan dapat menunjang kesehatan fisik maupun mental warga binaan selama menjalani masa pembinaan.
Kunjungan kerja tersebut juga disebut menjadi momentum untuk memperkuat pelaksanaan tugas dan fungsi pemasyarakatan di Kalimantan Barat. Agenda yang ditekankan meliputi evaluasi kinerja, peningkatan pengawasan, serta optimalisasi pelayanan publik.
Dalam laporannya, Kepala Kantor Wilayah Pemasyarakatan Kalbar menyampaikan capaian program pembinaan, termasuk program ketahanan pangan yang dijalankan di sejumlah UPT. Pada periode Januari hingga Februari 2026, kegiatan pembinaan kemandirian menghasilkan produksi dari sektor pertanian dan perkebunan sebanyak 4.481 kilogram, sektor perikanan 465 kilogram, serta sektor peternakan yang disebut terus berkembang.
Program ketahanan pangan tersebut disebut tidak hanya mendukung kebutuhan internal, tetapi juga menjadi sarana peningkatan keterampilan warga binaan sebagai bekal saat kembali ke masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, Mashudi menegaskan komitmen pemberantasan peredaran narkoba di dalam lapas dan rumah tahanan. Ia meminta jajaran memperkuat deteksi dini, razia rutin, serta sinergi dengan aparat penegak hukum. “Tidak boleh ada toleransi terhadap peredaran narkoba. Kita harus benar-benar bersih dan tegas. Pemasyarakatan harus menjadi tempat pembinaan, bukan tempat peredaran barang terlarang,” tegasnya.
Ia juga menyebut pengawasan internal, peningkatan integritas petugas, serta pemindahan narapidana tertentu antarwilayah sebagai bagian dari strategi pencegahan gangguan keamanan dan ketertiban.
Selain meresmikan Dapur Sehat, Dirjenpas meninjau program pembinaan kemandirian di Lapas Pontianak, mulai dari pertanian, perikanan, hingga peternakan. Program-program tersebut diarahkan untuk membekali warga binaan dengan keterampilan produktif yang bernilai ekonomi.
Melalui peresmian Dapur Sehat Pemasyarakatan ini, Ditjenpas berharap kualitas pelayanan terhadap warga binaan di Kalimantan Barat meningkat, baik dari aspek pemenuhan hak dasar, pembinaan mental-spiritual, maupun pengembangan keterampilan. Kunjungan kerja diakhiri dengan penegasan komitmen jajaran pemasyarakatan untuk memperkuat tata kelola yang profesional, akuntabel, dan berorientasi pada pelayanan publik demi mewujudkan sistem pemasyarakatan yang modern dan berintegritas.

