Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sleman tidak hanya menyasar anak sekolah, tetapi juga ibu hamil. Setelah berjalan sekitar sembilan bulan, pelaksanaan program ini memunculkan sejumlah persoalan, mulai dari kasus keracunan hingga penyajian menu makanan berkemasan.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman, dr. Seruni Angreni Susila, mengatakan pemberian menu berkemasan dalam program MBG masih berlangsung hingga saat ini. Dinkes, menurut dia, telah menyampaikan hal tersebut kepada Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Sleman.
Namun, Seruni menyebut BGN telah memiliki petunjuk teknis terkait penyediaan menu makanan dalam program MBG. Dengan adanya aturan baku tersebut, Dinkes menyatakan tidak dapat mengintervensi menu yang disediakan.
Seruni menilai pemenuhan gizi seimbang lebih baik dilakukan melalui makanan segar atau “real food”, yakni bahan pangan yang belum melalui proses pengolahan menjadi bentuk yang berbeda. Ia mencontohkan susu kotak bermerek yang dinilai tidak bisa begitu saja diberikan kepada ibu hamil untuk dikonsumsi.
“Kami lebih menyarankan penyediaan gizi seimbang real food atau yang belum melalui proses pengolahan menjadi wujud yang berbeda. Kami sudah minta BGN Sleman untuk berkoordinasi dengan BGN Pusat. Rujukan kami Undang-undang 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan,” kata Seruni saat ditemui di kantornya, Kamis (9/10/2025).
Menu makanan kemasan dalam program MBG juga menjadi perhatian para nutrisionis di puskesmas se-Kabupaten Sleman. Dinkes menilai konsumsi makanan semacam itu secara terus-menerus berisiko menimbulkan gangguan kesehatan.
Karena tidak dapat mengintervensi menu MBG, Dinkes menyatakan hanya dapat memberikan saran. Jika ibu hamil mengonsumsi makanan kemasan, asupan tersebut perlu diimbangi dengan makanan bergizi seimbang. Dinkes menegaskan makanan kemasan tidak dapat menjadi pengganti asupan gizi ibu hamil.
“Sebenarnya bisa saja ibu hamil mengonsumsi makanan kemasan. Tapi makanan ini tidak bisa menggantikan real food. Mending repot sedikit untuk membuat mengolah makanan sendiri, tapi gizi seimbang tercukupi. Kami takutnya ibu hamil malah terbiasa mengonsumsi makanan kemasan karena praktis,” ujar Seruni.
Sementara itu, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Sleman, Wiyato Widodo, menyampaikan terdapat 791 ibu hamil dan ibu menyusui yang tercatat sebagai penerima manfaat program MBG. “Itu data yang masuk ke Satgas Percepatan MBG Kabupaten Sleman,” kata Wiyato.

