Jumlah siswa SMA Negeri 2 Kudus yang mendapatkan perawatan medis akibat dugaan keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus bertambah. Hingga Kamis (29/1/2026), Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus mencatat total 118 siswa menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di wilayah Kudus.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Mustiko Wibowo, mengatakan para siswa tersebut tersebar di tujuh rumah sakit. “Pendataan terakhir menunjukkan ada 118 siswa yang menjalani perawatan dan tersebar di tujuh rumah sakit,” ujarnya, Kamis (29/1/2026).
Adapun sebaran pasien meliputi 28 siswa dirawat di RSUD Loekmono Hadi Kudus, 22 siswa di RS Mardi Rahayu Kudus, 19 siswa di RS Sarkies Aisyiyah, 14 siswa di RSI Kudus, 13 siswa di RS Kumala Siwi, 13 siswa di RS Aisyiyah, serta sembilan siswa di RS Kartika.
Keluhan kesehatan mulai muncul sejak Rabu (28/1/2026) malam. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kehumasan SMA Negeri 2 Kudus, Dwiyana, menyebut sejumlah guru lebih dulu merasakan gejala usai menyantap menu MBG yang diterima sekolah.
Menurut Dwiyana, makanan dari SPPG Purwosari tiba di sekolah sekitar pukul 11.15 WIB dan dibagikan kepada siswa serta guru sekitar pukul 11.45 WIB. “Awalnya yang mengeluh justru para guru. Mereka merasakan sakit perut dan diare, kemudian disusul siswa yang mengalami mual, pusing, perut sakit, dan diare,” katanya.
Dwiyana menyampaikan jumlah guru dan tenaga kependidikan di SMA Negeri 2 Kudus mencapai 98 orang, sedangkan jumlah siswa sebanyak 1.178 orang. Berdasarkan laporan sementara, sekitar 600 siswa mengalami keluhan serupa, meski sebagian besar memilih menjalani perawatan mandiri di rumah.
Menu MBG yang dibagikan pada hari itu disebut berupa soto ayam suwir, tempe, dan tauge. Pihak sekolah sempat memanggil perwakilan SPPG Purwosari untuk meminta penjelasan terkait kondisi makanan yang dibagikan. Sekolah juga menginstruksikan setiap kelas melakukan pendataan jumlah siswa yang mengalami gangguan kesehatan.
“Ada kelas yang melaporkan sampai 35 siswa sakit, ada juga yang 20 dan 17 siswa,” ujar Dwiyana.
Seiring kondisi beberapa siswa yang memburuk, pihak sekolah meminta bantuan puskesmas. Petugas kesehatan bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus kemudian datang ke lokasi sebelum merujuk sejumlah siswa ke rumah sakit menggunakan ambulans.

