JAKARTA – Dewi Lestari, penyanyi sekaligus penulis novel terlaris di Indonesia, kembali menghadirkan karya terbarunya berjudul Aroma Karsa. Novel ini menjadi karya ke-12 dari penulis yang dikenal dengan nama pena Dewi Dee Lestari tersebut, sekaligus dianggap sebagai puncak perjalanan panjangnya dalam dunia penulisan.
Aroma Karsa mengangkat tema tentang indera penciuman dan aroma, yang merupakan aspek baru dalam karya Dewi Lestari. Penulis yang lahir di Bandung pada 20 Januari 1976 ini mengungkapkan bahwa novel ini berbeda dari karya-karyanya sebelumnya karena fokus pada deskripsi aroma yang kuat dan detail.
"Aroma Karsa merupakan kulminasi dari pelajaran dan pengalaman yang saya dapat dari 11 novel sebelumnya," ujar Dewi dalam jumpa pers peluncuran buku yang digelar di Resto Le Seminyak, Cipete, Jakarta Selatan. Ia juga menjelaskan bahwa penggunaan istilah molekuler dalam dunia wewangian merupakan kebutuhan cerita yang mengacu pada kenyataan bahwa para ahli parfum yang ditemuinya berlatang belakang di bidang kimia.
Novel setebal 700 halaman ini menggabungkan berbagai unsur seperti petualangan, legenda kuno dari era Majapahit, kisah keluarga, dan percintaan. Konsep aroma yang dapat mengendalikan kehendak manusia menjadi ide sentral yang dikembangkan secara mendalam sejak Januari 2017 melalui proses riset intensif.
Dalam proses penulisan, Dewi melakukan riset aroma selama sembilan bulan, termasuk mengikuti kelas parfum di Singapura. Ia bahkan mendalami bahan langka seperti ambergris—muntahan paus yang telah mengering di laut selama puluhan tahun dan bernilai sangat tinggi di pasar parfum internasional.
"Saya tidak menyangka bau amis ambergris bisa menjadi bahan utama parfum setelah dicampur dengan formula tertentu," ujarnya. Selain itu, Dewi juga mengunjungi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantargebang untuk mendapatkan pengalaman langsung yang kemudian dituangkan dalam novel tersebut. Ia mengamati fenomena unik seperti tidak adanya lalat di area berbau kuat yang menjadi lokasi penjualan makanan di sekitar TPA.
Penulisan Aroma Karsa menuntut Dewi untuk mengembangkan kosakata yang luas dalam mendeskripsikan bau agar tidak terkesan monoton. Hal ini menjadi tantangan tersendiri karena sensasi penciuman bersifat menyeluruh dan tidak mudah divisualisasikan seperti narasi visual pada umumnya.
Novel ini bercerita tentang dua tokoh utama, Jati Wesi dan Tanaya Suma, yang memiliki hiperosmia atau kemampuan penciuman yang sangat tajam. Keduanya bekerja sama dalam pencarian Puspa Karsa, sebuah bunga sakti yang dipercaya mampu mengatur kehendak manusia, meskipun keberadaannya masih menjadi misteri.
Aroma Karsa diterbitkan oleh Bentang Pustaka dan sudah tersedia di seluruh toko buku di Indonesia mulai 16 Maret.