Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegur keras sekelompok anak muda yang meneriakkan dukungan untuk Persikas Subang saat acara Abdi Nagri Nganjang ka Warga di Desa Sukamandijaya, Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang, Rabu malam, 28 Mei 2025. Momen tersebut terjadi ketika suasana acara sedang khidmat dan haru.
Acara yang dikemas sebagai festival layanan publik dan hiburan khas Jawa Barat itu dihadiri ribuan warga, serta Bupati Subang beserta wakilnya. Sejumlah hiburan juga ditampilkan, antara lain Ohang, penyanyi jalanan asal Kota Bandung Mang Aldo, Emka 9, Wa Kancil, Ceu Popon, dan Maestro Tari Wangi Indriya. Kegiatan ini turut disiarkan melalui live streaming di kanal Youtube Humas Jabar.
Dalam salah satu sesi, Dedi berbincang di panggung dengan seorang ibu dan tiga anaknya, termasuk anak bungsu berusia tiga tahun. Ia menyampaikan wejangan dalam Bahasa Sunda. Diceritakan, ibu tersebut tetap berupaya membiayai anak-anaknya bersekolah, termasuk seorang anak yang memiliki keterbatasan fisik. Suasana menjadi emosional ketika sejumlah pejabat di panggung menyalami sang ibu sambil memberikan uang secara spontan, diiringi lagu bernuansa sedih yang dinyanyikan vokalis perempuan.
Ketika suasana masih syahdu, Dedi yang duduk di panggung sempat mengucapkan kalimat, “Ngaguru ku kabodoan, ihlas eusi kapinteran.” Namun, dari arah penonton terdengar teriakan tentang Persikas disertai pembentangan spanduk bertuliskan “Selamatkan Persikas”.
Dedi menilai aksi tersebut mengganggu jalannya acara. Ia langsung menegur dan meminta mereka berhenti serta menurunkan spanduk. “Hai, berhenti kamu, duduk! Ini bukan forum Persikas, ini forum saya. Siapa kamu! Turunkan spanduknya, turunkan!” ucapnya melalui mikrofon.
Ia kemudian menegaskan bahwa forum tersebut membahas urusan masyarakat, bukan klub sepak bola. “Ini urusan rakyat bukan urusan Persikas!” kata Dedi, seraya menyampaikan bahwa penyampaian aspirasi soal Persikas seharusnya dilakukan di tempat lain.
Dedi juga menyampaikan pandangannya bahwa kebutuhan mendesak warga Subang saat ini berkaitan dengan kebutuhan dasar, seperti makan sehari-hari, pendidikan, dan infrastruktur jalan. Menurutnya, mengelola sepak bola agar bisa masuk Liga 1 atau Liga 2 memerlukan biaya besar, dan ia menilai anggaran pemerintah daerah tidak cukup bila digunakan untuk mengurus klub sepak bola.
Setelah meluapkan emosinya, Dedi menurunkan nada bicaranya dan kembali mengajak hadirin mengambil pelajaran dari sosok ibu yang sedang dibahas di panggung. Ia menekankan pentingnya tidak mengabaikan atau merendahkan orang lain, serta menyoroti keteguhan ibu tersebut dalam membesarkan dan membiayai pendidikan anak-anaknya.
Di akhir sesi, Dedi kembali menghampiri ibu dan anak-anaknya. Ia memberi semangat kepada anak perempuan agar terus sekolah, dan menyatakan biaya sekolahnya akan ditanggung oleh dirinya. Dalam kesempatan itu, disebutkan pula donasi spontan dari hadirin, termasuk pejabat Pemprov Jabar dan Pemkab Sumedang di panggung, terkumpul Rp 16 juta dan kemudian digenapkan oleh dana pribadi Dedi menjadi Rp 20 juta. Dedi meminta agar pemanfaatan uang tersebut diatur pendistribusiannya oleh lurah.

