Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai persoalan kesehatan generasi masa depan kini tidak lagi semata terkait kekurangan gizi. Menurutnya, gaya hidup kurang gerak dan pengelolaan nutrisi yang tidak tepat turut memicu meningkatnya penyakit kronis, bahkan beririsan dengan persoalan sosial.
Hal itu disampaikan Dedi dalam Seminar Nasional dan Deklarasi Kedaulatan Kesehatan Indonesia 2045 di GBI Bethel Summarecon, Kota Bandung, Rabu, 15 Juli 2026. Ia menyebut masalah generasi muda diperparah oleh rasa malas dan ketergantungan pada gawai, sementara ruang gerak anak-anak semakin sempit sehingga kesempatan untuk membakar kalori menjadi berkurang.
Dedi mencontohkan dampak gaya hidup pasif yang terlihat pada menurunnya minat anak terhadap aktivitas fisik dan olahraga. Ia menilai perubahan itu tercermin dari memudarnya tradisi pertandingan sepak bola saat perayaan 17 Agustus di masyarakat.
Selain itu, Dedi menyoroti perubahan pola konsumsi minuman pada anak-anak. Ia mengatakan konsumsi air putih menurun dan bergeser ke minuman kemasan berpemanis buatan dengan kadar gula tinggi. Kondisi tersebut, menurutnya, berkontribusi pada lonjakan kasus gagal ginjal dan diabetes yang mulai muncul pada usia dini.
Dedi juga mengaitkan kurangnya aktivitas fisik dengan kondisi emosi remaja. Ia menyebut kalori berlebih yang tidak disalurkan melalui kegiatan fisik dapat berubah menjadi energi negatif dan memicu emosi tidak terkendali. Dalam pandangannya, hal itu menjadi salah satu pemicu maraknya tawuran bersenjata tajam, dengan mayoritas pelaku disebut berasal dari kelompok kelas menengah ke bawah.
Dalam kesempatan itu, Dedi menekankan tanggung jawab negara dalam pemenuhan asupan makanan bergizi, minuman berkualitas, serta udara yang bernutrisi. Ia mendorong transformasi pendidikan dan pembangunan karakter, dengan fokus yang tidak hanya menitikberatkan pada kecerdasan intelektual (IQ), tetapi juga penguatan kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Dedi juga berharap institusi keagamaan dapat bertransformasi menjadi pusat kesehatan fisik dan mental masyarakat.
Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan dr Benjamin Paulus menyatakan kesehatan perlu ditempatkan sebagai investasi strategis bangsa, bukan sekadar sektor pelayanan publik. Ia mengatakan salah satu prioritas pembangunan nasional adalah membangun generasi yang sehat, cerdas, dan produktif sejak fase awal kehidupan.
Benjamin menyebut upaya tersebut dilakukan melalui berbagai intervensi, antara lain pemenuhan gizi ibu hamil, perbaikan gizi anak, pencegahan stunting, penguatan unit kesehatan sekolah (UKS), serta promosi perilaku hidup sehat. Ia menegaskan setiap anak berhak tumbuh sehat, belajar dengan baik, dan memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensi, seraya berharap kolaborasi yang terbangun dapat menghasilkan rekomendasi strategis dan implementatif.
Dewan Kehormatan DPP Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) Hashim Djojohadikusumo menambahkan, berdasarkan data Kementerian Kesehatan sekitar tiga tahun lalu, 41% anak sekolah berangkat tanpa sarapan. Ia juga menyebut sekitar 21–22% balita mengalami stunting, yang dinilai dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia Indonesia bila tidak segera diperbaiki.
Hashim menekankan kualitas lingkungan turut menentukan kesehatan masyarakat, termasuk ketersediaan air bersih dan rumah layak huni, yang kemudian perlu ditunjang program kesehatan serta pendidikan yang baik.

