Pandemi COVID-19 pada 2020 menjadi ujian berat bagi Tati. Sektor bisnis terdampak keras, termasuk usaha yang ia jalankan. Setelah berupaya mempertahankan bisnisnya, Tati akhirnya memutuskan kembali ke Taipei untuk menata ulang kehidupan sekaligus mencari peluang baru.
Kepulangan itu tidak membuatnya berhenti berusaha. Pada 2022, rasa rindu kampung halaman mendorong Tati memperkenalkan Bubur Cirebon di tengah aktivitas Kota Taipei. Ia sempat diliputi keraguan, terutama karena cuaca Taiwan yang relatif panas.
“Awalnya sempat ragu juga, Taiwan kan panas, apa orang mau makan bubur? Tapi saya pikir, kalau tidak dicoba kita tidak akan tahu. Jadi waktu itu saya jalani saja dulu,” kata Tati.
Bersama suaminya, Tati meracik dan menjajakan Bubur Cirebon dari pinggir jalan. Selama delapan bulan, keduanya menjaga kualitas rasa untuk mengenalkan kuliner tersebut kepada pelanggan. Upaya itu berbuah hasil: usaha Tati berkembang hingga berpindah ke tempat permanen, dengan omzet penjualan yang disebut mencapai 30.000 hingga 120.000 dolar Taiwan baru (NTD).
Menurut Tati, keberhasilan usaha ini tidak hanya diukur dari omzet. Ia juga membuka kesempatan kerja bagi sesama warga Indonesia di Taiwan. “Saya dulu juga datang ke Taiwan untuk bekerja dan membantu keluarga. Jadi kalau sekarang ada kesempatan untuk membantu orang Indonesia yang mau bekerja di sini, saya bantu sebisa saya. Saya tahu mereka juga punya keluarga yang ingin dibantu,” ujarnya.
Seiring skala usaha membesar, cara Tati mengelola keuangan juga berubah. Jika sebelumnya ia mengenal bank terutama untuk mengirim uang ke Indonesia, kini ia memanfaatkan layanan perbankan untuk menyetorkan hasil usaha yang masih berbasis tunai. Ia juga mulai mengadopsi sistem pembayaran menggunakan QR Payment untuk memudahkan transaksi pelanggan.
“Dulu saya pakai BRI hanya untuk kirim uang ke Indonesia. Sekarang setelah punya usaha, kebutuhannya juga ikut berubah. Hasil penjualan yang masih tunai bisa saya setorkan melalui BRI Taipei, dan sekarang pelanggan juga mulai bisa bayar lewat QR Payment. Saya tidak pernah membayangkan perjalanan saya bisa sampai di tahap ini, dan sejauh ini petugas BRI Taiwan sangat membantu,” tutur Tati.
Kisah perubahan Tati dari pekerja migran menjadi pelaku usaha turut disoroti Direktur Utama BRI, Hery Gunardi. Ia menilai pengalaman Tati menunjukkan bahwa pekerja migran Indonesia (PMI) bukan hanya penopang ekonomi keluarga, tetapi juga memiliki potensi menjadi pengusaha yang membuka lapangan kerja.
“Perjalanan dari seorang pekerja migran hingga mampu membangun usaha, menciptakan lapangan pekerjaan, dan membuka peluang bagi sesama masyarakat Indonesia merupakan wujud nyata dari semangat pemberdayaan yang ingin terus kami dorong,” kata Hery.
Dalam konteks diaspora Indonesia di Taiwan, Hery juga menyinggung pentingnya infrastruktur finansial di negara penempatan. Ia menyebut keberadaan fasilitas seperti BRI Taipei—yang hingga Juli 2026 mencatat transaksi remitansi mencapai US$490 juta—dirancang untuk menghubungkan ekosistem finansial Taiwan dan Indonesia. Selain itu, adaptasi digital melalui aplikasi mobile banking seperti BRImo Taiwan disebut memberi ruang bagi pekerja migran dan wirausahawan untuk mengatur remitansi serta transaksi harian.