Memanfaatkan waktu luang di tengah kejenuhan dapat berkembang menjadi peluang usaha bila dijalankan dengan serius. Hal itu disampaikan Theresia Christin, pemilik brand kuliner RASA, saat menjadi narasumber program siaran Teras UMKM di Studio Pro 4 RRI Jakarta, Senin, 25 Mei 2026.
Dalam dialog interaktif yang dipandu host Mariana Suhendi, Theresia menceritakan proses bagaimana kegiatan mengisi waktu kosong bertransformasi menjadi bisnis yang berjalan konsisten.
Theresia menuturkan, RASA berawal pada 2020 ketika pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Saat itu ia sedang menyusun skripsi dan menjalani pembatasan aktivitas di rumah. Untuk mengatasi kebosanan di sela kesibukan akademisnya, ia menyalurkan hobi baking. Berbekal latar belakang pendidikan di jurusan kuliner, ia mengunggah hasil eksperimen kuenya ke media sosial. Respons dari teman-temannya kemudian mendorong munculnya pesanan melalui sistem pre-order (PO).
Nama “RASA” dipilih dengan pertimbangan agar identitas usaha langsung diasosiasikan dengan makanan tanpa menonjolkan satu menu tertentu. Theresia juga menekankan bahwa ia ingin menghadirkan pengalaman yang utuh bagi konsumen, tidak hanya dari sisi rasa. Karena itu, RASA memberi perhatian pada estetika, mulai dari tampilan visual produk, teknik plating, hingga kemasan yang dibuat cantik dan elegan agar pengalaman konsumen tetap menyenangkan saat menerima pesanan.
Setelah berjalan enam tahun di tengah persaingan yang ketat, Theresia memaparkan strategi untuk menjaga keberlangsungan usaha. Ia memilih tidak semata mengikuti tren musiman yang cepat berganti, melainkan mempertahankan karakter menu klasik yang menurutnya selalu dirindukan dan memiliki memori tersendiri bagi penikmatnya. Selain menjaga kualitas produk, pengalamannya di social media agency juga dimanfaatkan untuk mengoptimalkan pemasaran digital, terutama saat menghadapi periode sepi pesanan.