KABUPATEN CIANJUR — Aktivitas dapur umum Muhammadiyah di Kabupaten Cianjur mulai berjalan sejak pukul 03.00 WIB. Para juru masak berkumpul untuk menyiapkan makanan bagi relawan Muhammadiyah yang jumlahnya sekitar 300 orang dan datang silih berganti dalam misi kemanusiaan membantu penyintas gempa di Cianjur dan sekitarnya.
Pada Sabtu (26/11) sekitar pukul 04.30 WIB, aroma opor ayam tercium dari area parkir lokasi dapur umum. Di bawah tenda, delapan orang pengelola dapur umum menyiapkan menu sarapan untuk para relawan. Sebagian lainnya mengupas sayuran untuk kebutuhan makan siang, menyiapkan bumbu, hingga mencuci peralatan masak di kran air yang tersedia di dapur umum.
Salah satu relawan, Komalasari, yang aktif di Pimpinan Cabang Aisyiyah Sukaluyu, Kabupaten Cianjur, menuturkan bahwa pada hari kedua pascagempa, tim dapur umum masih berjumlah empat orang untuk melayani relawan Muhammadiyah. Memasuki hari ketiga, jumlah relawan meningkat dan kebutuhan konsumsi pun melonjak. Ia menyebut penggunaan beras meningkat hingga lebih dari 100 liter.
Menurut Komalasari, tim dapur umum terdiri dari guru-guru, anggota Aisyiyah, Nasyiatul Aisyiyah, serta Immawan dan Immawati yang bergabung agar ketersediaan makanan tetap terjaga. Perlengkapan memasak, kata dia, baru terpenuhi pada hari ketiga setelah relawan Muhammadiyah dari beberapa daerah datang membawa dukungan.
Komalasari menjelaskan, setelah melewati hari ketiga, dapur umum menghabiskan sekitar 100 liter beras setiap hari. Rinciannya, pagi 20 liter, siang 20 liter, dan malam 20 liter. Ia juga menyebut adanya kendala, mulai dari keterbatasan waktu hingga kebutuhan belanja bahan masakan yang harus dilakukan dengan cepat. Namun, kelelahan itu terbayar saat melihat relawan datang menanyakan menu dan menyantap makanan dengan lahap. Ia menekankan pentingnya menjaga stamina relawan karena sebagian ditugaskan ke lokasi bencana yang jauh dari posko utama.
Relawan lain, Ahmad Taufiq, mengatakan dirinya mengatur menu makan harian. Variasi menu ditulis di papan menu agar relawan dapat mengetahui informasi makanan yang tersedia di dapur umum. Ia menargetkan sarapan sudah tersaji pukul 06.00 WIB, karena pagi dinilai krusial agar relawan tidak berangkat ke lapangan dalam kondisi perut kosong.
Untuk makan siang, Taufiq menargetkan hidangan tersedia sebelum waktu dzuhur. Jika relawan tidak sempat datang ke posko pada siang hari, mereka dapat meminta makanan dibungkus untuk dibawa ke lapangan. Menu yang disiapkan antara lain sayur acar, empal gentong, sayur sop ayam, sayur buncis, sayur kangkung, tumis labu, oseng bihun, oseng kol, karedok, dan menu lainnya.
Taufiq menambahkan, bahan makanan yang tersedia diupayakan tidak terbuang. Jika ada sisa, bahan tersebut diolah menjadi makanan lain seperti bakwan atau gorengan untuk camilan relawan. Prinsip yang dipegang adalah makanan harus mengenyangkan, bergizi, dan bervariasi sesuai bahan yang ada. Bahan seperti kol, wortel, timun, buncis, dan lainnya disebut berasal dari donasi masyarakat dari Bekasi, Cianjur, Bandung, Tangerang, Cianjur, dan daerah lain.
Sementara itu, Antono, relawan asal Cilacap yang ikut menyiapkan menu, mengaku baru pertama kali menjadi bagian dari tim dapur umum. Ia mengatakan, selama ini saat menjadi relawan ia biasanya hanya makan lalu bergerak ke lapangan. Namun kali ini, ia turut menjalani rutinitas bangun pagi untuk menyiapkan makanan bagi para relawan.

