BERITA TERKINI
Dapur MBG di Tarakan Keluhkan Pasokan Bahan dan Kemasan, Harap Dukungan Petani-Nelayan Lokal

Dapur MBG di Tarakan Keluhkan Pasokan Bahan dan Kemasan, Harap Dukungan Petani-Nelayan Lokal

TARAKAN – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Tarakan yang telah berjalan hampir setahun masih menghadapi persoalan yang dinilai cukup kompleks. Tantangan tersebut memunculkan keluhan hampir setiap hari, terutama terkait ketersediaan bahan baku dan kemasan standar yang dibutuhkan dapur penyedia makanan.

Ketua Yayasan Hidup Berbagi Kasih yang mewakili Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Juata Kerikil, Jakson Situmorang, mengatakan pembelian bahan dilakukan dalam jumlah besar setiap hari. Kondisi ini membuat pasar lokal kewalahan karena stok cepat menipis.

“Kami membeli dalam jumlah besar setiap hari. Wajar kalau pasar lokal kaget dan stok cepat menipis. Ini bukan semata-mata soal manajemen dapur, tapi memang kapasitas pasokan yang terbatas,” ujar Jakson.

Ia menjelaskan, situasi serupa terjadi pada sejumlah komoditas pangan seperti telur, ayam, sayur-mayur, dan buah. Ketika permintaan meningkat secara bersamaan dari puluhan dapur, pedagang di pasar tradisional kesulitan memenuhi kebutuhan dalam waktu singkat.

Jakson berharap ada dukungan lebih lanjut dari pemerintah daerah, baik untuk stabilisasi pasokan bahan baku maupun fasilitasi distribusi kemasan standar. Menurutnya, kerja sama dengan petani, peternak, dan nelayan lokal dapat menjadi solusi jangka panjang agar kebutuhan program terpenuhi secara berkelanjutan, sekaligus membantu menjaga stabilitas harga.

“Program ini kan untuk kepentingan bersama, jadi memang perlu dukungan semua pihak,” katanya.

Selain bahan pangan, persoalan kemasan juga menjadi tantangan tersendiri. Standar kemasan mika atau sistem vakum yang dianjurkan disebut tidak selalu tersedia dalam jumlah cukup di Tarakan. Akibatnya, beberapa dapur terpaksa menggunakan kantong plastik sebagai alternatif sementara.

Jakson menilai masalah ini muncul karena permintaan kemasan meningkat tajam seiring berjalannya program MBG. Saat pembelian dilakukan dalam jumlah besar, stok di toko atau distributor lokal cepat habis dan harga bisa naik dalam waktu singkat.

“Kami membeli dalam jumlah besar setiap hari. Wajar kalau pasar lokal kaget dan stok cepat menipis. Ini bukan semata-mata soal manajemen dapur, tapi memang kapasitas pasokan yang terbatas,” pungkasnya.