Industri kuliner di Kota Palu terus bergerak dinamis, termasuk pada segmen hidangan penutup. Dalam siaran Santai Siang di PRO 2 RRI Palu, Sara Sofira selaku pemilik usaha Dapur Mahmud menceritakan pengalamannya mengelola bisnis yang membuat produknya dikenal di Palu.
Sara menilai keberanian mengambil risiko dan ketegasan menjaga standar kualitas menjadi kunci dalam menjalankan usahanya, terutama di tengah keterbatasan bahan baku lokal. Salah satu tantangan yang ia hadapi adalah ketersediaan bahan berkualitas di Sulawesi Tengah, khususnya untuk buah-buahan tertentu seperti stroberi.
Menurut Sara, stroberi lokal kerap tidak sesuai dengan standar yang dibutuhkan untuk topping kue, baik dari sisi rasa maupun tampilan. Ia menyebut stroberi lokal terkadang terlalu asam dan warnanya tidak merata, sehingga ia memilih mendatangkan pasokan dari luar daerah seperti Bandung atau Makassar. Langkah itu diambil demi menjaga konsistensi rasa, meski konsekuensinya biaya logistik menjadi lebih tinggi.
Selain persoalan bahan baku, Sara juga menaruh perhatian pada manajemen stok. Ia menerapkan strategi ready stock dengan menyediakan produk siap jual untuk mengantisipasi pesanan mendadak yang kerap muncul di Palu. Ia menilai ketersediaan produk secara cepat menjadi peluang yang perlu ditangkap, seiring kebiasaan konsumen yang menginginkan layanan serba instan.
Untuk mengatasi stok yang melebihi perkiraan penjualan harian, Sara menerapkan sistem flash sale atau penjualan cepat dengan harga khusus. Strategi tersebut, menurutnya, membantu perputaran modal sekaligus mencegah produk terbuang. Ia juga menilai langkah ini efektif menekan kerugian dan memastikan produk yang diterima konsumen tetap dalam kondisi segar.
Melalui kombinasi upaya menjaga kualitas bahan dan pengelolaan stok, Sara menekankan pentingnya konsistensi produk serta kreativitas pemasaran agar arus kas usaha tetap terjaga.

