BERITA TERKINI
Budaya Kopi Vietnam Masuk Daftar 12 Pengalaman Kuliner Terbaik Dunia Versi National Geographic

Budaya Kopi Vietnam Masuk Daftar 12 Pengalaman Kuliner Terbaik Dunia Versi National Geographic

National Geographic menempatkan budaya kopi Vietnam dalam daftar 12 pengalaman kuliner terbaik di dunia. Dalam ulasannya, media tersebut menekankan bahwa makanan kerap menjadi “kompas” perjalanan: rasa pedas, hangat, hingga manis dapat mendorong orang melintasi batas negara, sekaligus membuka cerita tentang sejarah, ritual, dan identitas sebuah wilayah.

Menurut National Geographic, pengalaman kuliner tidak berhenti pada aktivitas mencicipi. Dua belas pilihan yang disusun mengajak wisatawan melihat proses pembuatan secara langsung, bertemu orang-orang di baliknya, dan merasakan sebuah destinasi melalui cara yang lebih intim.

Di Vietnam, secangkir kopi dipotret sebagai bagian penting dari ritme kehidupan sehari-hari. Dari kafe-kafe kecil di kawasan Kota Tua Hanoi hingga suasana yang semarak di Kota Ho Chi Minh, kopi tidak hanya berfungsi untuk membantu orang tetap terjaga, tetapi juga menjadi ruang untuk bertemu, mengobrol, dan berinteraksi.

National Geographic mencatat, biji kopi diperkenalkan ke Vietnam oleh Prancis pada abad ke-19. Seiring waktu, kopi kemudian berakar dan berkembang menjadi identitas yang berbeda, membentang dari Hanoi hingga Delta Mekong.

Keragaman cara menikmati kopi di Vietnam disebut dipengaruhi oleh iklim, kreativitas, serta kondisi sejarah. Salah satu contoh yang diangkat adalah kopi telur, yang muncul pada masa kelangkaan susu. Dalam kisahnya, seorang barista di Hanoi mengocok kuning telur dengan kopi panas hingga menghasilkan lapisan krim yang kaya dan khas.

Pengalaman mengenal budaya kopi ini, antara lain, dapat ditemukan di kafe tepi sungai The Yellow Bicycle yang berada di Hotel Moire Hoi An. Di sana, tamu dapat mempelajari cerita di balik kopi Vietnam melalui aktivitas harian bersama barista dan pelayan lokal. Mereka menjelaskan alasan Vietnam lebih menyukai biji kopi robusta yang bercita rasa kuat dan berkafein tinggi, serta penggunaan metode seduh tetes yang dinilai memperdalam rasa. Pengunjung juga dapat mencicipi kopi hitam tradisional maupun versi yang menggunakan susu kental manis.

Bagi wisatawan yang ingin mengeksplorasi lebih jauh, tersedia kelas barista selama satu jam. Dalam sesi ini, peserta dapat mencoba mengocok telur sendiri, mengatur waktu setiap tetes kopi dengan cermat, serta menyempurnakan variasi seperti kopi asin atau kopi telur.

Selain Vietnam, National Geographic juga menyoroti sejumlah destinasi kuliner lain. Di Hatton, Sri Lanka, warisan teh Ceylon dihidupkan kembali di dataran tinggi berkabut. Teh yang diperkenalkan Inggris pada 1867 itu disebut turut menjadikan Sri Lanka sebagai produsen terbesar keempat di dunia dan dikenal lewat teh hitam beraroma jeruk. Di Ceylon Tea Trails, lima pondok kayu di Perkebunan Teh Dunkeld seluas 550 hektar menawarkan rangkaian pengalaman, mulai dari tur pabrik berusia seabad hingga menikmati teh di perbukitan hijau.

Di Le Marche, Italia, tradisi pengolahan daging babi menjadi sorotan. La Tavola Marche menawarkan kursus empat malam tentang penyembelihan babi utuh untuk memahami teknik pemotongan serta semangat kuliner setempat. Sementara itu, Jepang diwakili seni bento. Di Palace Tokyo, kelas selama tiga setengah jam yang dipandu Marc Matsumoto mengajak peserta menyiapkan kotak bento, menikmati hidangan hasil kreasi sendiri, dan membawa pulang kotak bento kayu beserta buku resep.

Daftar National Geographic juga mencakup Mendoza (Argentina), St. George (Grenada), Istanbul (Turki), Danau Atitlán (Guatemala), Hong Kong (Tiongkok), Kigali (Rwanda), dan Bohuslan (Swedia). Keseluruhan pilihan tersebut menggambarkan kuliner sebagai jembatan antara wisatawan dan masyarakat setempat—membuat perjalanan bukan sekadar kunjungan, melainkan kesempatan untuk memahami kedalaman budaya melalui rasa.