Denpasar — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali mempertimbangkan menu sehat hasil inovasi perguruan tinggi sebagai salah satu opsi bantuan logistik ketika bencana terjadi. Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Bali, Ida Bagus Gede Widnyana, mengatakan menu tersebut dapat menjadi pilihan BPBD Bali dalam penyediaan logistik.
Menu sehat itu merupakan hasil kajian Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Denpasar. Penyusunannya dihitung berdasarkan kebutuhan gizi tiap kelompok usia. BPBD Bali juga mendorong agar inovasi tersebut segera diluncurkan menjadi produk yang diperjualbelikan dan dipatenkan, sehingga memungkinkan produksi dalam jumlah besar.
Widnyana menyampaikan apresiasi terhadap inovasi tersebut karena dinilai dapat meningkatkan layanan pemenuhan kebutuhan dasar, khususnya pangan, saat bencana. Menurutnya, dukungan tidak hanya perlu dilihat dari sisi kuantitas, tetapi juga kualitas gizi, dengan harapan menu bergizi dapat membantu memenuhi standar kesehatan.
Dari sisi pengembangan akademik, Analis SDM Aparatur Ahli Muda LLDikti Wilayah VIII Bali–NTB, Pande Putu Suryadinata, menyebut inovasi menu sehat bencana ini bisa menjadi referensi bagi perguruan tinggi lain dalam mengintegrasikan keilmuan dengan upaya penanggulangan bencana. Ia juga menilai kegiatan seperti KKN Tematik dapat memperkuat sinergi antara dunia akademik dan pengurangan risiko bencana.
Sementara itu, Dosen dan Peneliti Poltekkes Kemenkes Denpasar, Anak Agung Nanak Antarini, menjelaskan menu tersebut disusun berdasarkan kebutuhan gizi korban bencana, dengan pemahaman bahwa setiap kelompok usia memiliki kebutuhan yang berbeda. Karena itu, menu tidak hanya mempertimbangkan kondisi darurat, tetapi juga kebutuhan spesifik anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia.
Ia menyatakan menu gizi bencana bertujuan membantu masyarakat terdampak mempertahankan status gizi, mencegah kekurangan gizi, serta mengurangi risiko kesakitan dan kematian. Penyesuaian dilakukan untuk setiap kelompok usia sesuai kebutuhan masing-masing.
Dalam rinciannya, untuk bayi usia 0–6 bulan, asupan utama adalah ASI tanpa pemberian susu formula kecuali atas indikasi medis. Untuk bayi usia 6–24 bulan, MPASI disusun agar mengandung energi, protein, vitamin, dan mineral dengan angka kecukupan gizi (AKG) 1.000 kkal. Sementara untuk anak balita, opsi yang disebut antara lain biskuit fortifikasi, makanan siap saji, susu UHT, serta bubur instan fortifikasi dengan AKG 1.350 kkal.
Bagi kelompok dewasa, menu dapat berupa makanan siap saji, lauk kaleng, serta mi instan yang dilengkapi protein, dengan AKG 1.900–2.250 kkal untuk perempuan dan 2.400–2.650 kkal untuk laki-laki. Untuk ibu hamil, produk yang disiapkan meliputi biskuit, susu ibu hamil, serta tablet tambah darah yang mengandung energi, protein, zat besi, asam folat, kalsium, dan vitamin. Adapun untuk lansia, menu dapat berupa bubur instan, susu tinggi kalsium, makanan lunak siap saji, serta biskuit tinggi energi dengan AKG 1.800 kkal.

