BERITA TERKINI
Bisnis Kuliner Gen Z: Kreatif di Media Sosial, Diuji Saat Skala Usaha Membesar

Bisnis Kuliner Gen Z: Kreatif di Media Sosial, Diuji Saat Skala Usaha Membesar

Gambaran pengusaha kuliner sukses yang identik dengan pengalaman panjang dan berjualan di ruko perlahan bergeser. Di berbagai aplikasi pesan-antar makanan dan minuman, serta di linimasa media sosial, semakin banyak usaha kuliner skala kecil yang dijalankan anak-anak Gen Z, termasuk mahasiswa dan lulusan baru. Ragam produknya beragam, mulai dari jajanan seperti risol dan cireng, mi yang sempat viral, minuman kopi kekinian, hingga frozen food rumahan yang mendadak ramai setelah muncul di video pendek.

Fenomena tersebut sejalan dengan data industri. Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) melaporkan, hingga kuartal III 2025 industri makanan dan minuman nasional tumbuh 6,49 persen, melampaui target pertumbuhan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 5 hingga 5,5 persen. Perubahan pola konsumsi yang kian bergantung pada media sosial dan layanan pesan-antar digital, serta kemudahan sebuah menu menjadi viral di TikTok maupun Instagram, disebut menjadi pendorong utama capaian tersebut.

Di sisi lain, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mayoritas bergerak di bidang kuliner tercatat berkontribusi sekitar 61,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan jumlah unit usaha menembus 65 juta pada pertengahan 2025. Adapun subsektor penyediaan akomodasi serta makan-minum tercatat memiliki 6,41 juta unit usaha, bertambah sekitar 8,42 ribu unit dibanding tahun sebelumnya. Deretan angka ini memperlihatkan bisnis kuliner yang digerakkan anak muda tidak semata tren sesaat, melainkan turut menjadi bagian dari penggerak ekonomi.

Berawal dari modal kecil

Salah satu ciri usaha kuliner yang dijalankan Gen Z adalah cara memulai bisnis dengan modal relatif kecil. Jika sebelumnya membuka usaha makanan dan minuman kerap diasosiasikan dengan sewa ruko dan perlengkapan dapur lengkap, kini banyak yang memulainya dari dapur rumah dengan peralatan sederhana, dibarengi akun media sosial yang aktif.

Keterbatasan modal ini mendorong mereka berpikir efisien sejak awal. Mereka terbiasa menghitung biaya produksi hingga detail terkecil, mencoba beberapa skema harga sebelum menetapkan harga yang dianggap paling masuk akal, serta berani menghentikan menu yang tidak laku. Praktik semacam ini pada dasarnya mencerminkan pengendalian biaya dan manajemen operasional, meski sering dilakukan secara naluriah, bukan karena mengikuti teori manajemen secara formal.

Media sosial sebagai promosi sekaligus riset

Perbedaan lain terlihat pada cara pemasaran. Jika generasi sebelumnya mengandalkan spanduk, banner, atau brosur, pelaku kuliner muda memanfaatkan konten di media sosial sebagai alat utama. Polanya tidak berhenti pada promosi satu arah. Kolom komentar pada unggahan kerap menjadi ruang umpan balik: menu mana yang paling diminati, harga yang dianggap wajar, hingga keluhan yang sering muncul.

Kecepatan merespons masukan ini membuat penyesuaian produk bisa terjadi dalam hitungan hari—mulai dari perubahan resep hingga pembaruan kemasan—berbeda dengan perusahaan besar yang umumnya membutuhkan waktu lebih lama untuk riset formal.

Contoh: Kopi Tuku

Nama Kopi Tuku kerap disebut sebagai salah satu rujukan ketika membahas usaha kuliner anak muda yang berkembang pesat. Pendirinya, Andanu Prasetyo (Tyo), lahir pada 1989, disebut awalnya tidak berencana terjun ke bisnis kopi. Ketertarikan itu muncul ketika ia mengerjakan riset untuk tugas kuliah di Prasetiya Mulya Business School.

Dari riset tersebut, ia melihat adanya kesenjangan antara besarnya volume produksi dan distribusi kopi Indonesia dengan rendahnya tingkat konsumsi kopi di dalam negeri pada saat itu. Berbekal pengamatan tersebut, Tyo membuka gerai pertama Tuku di Cipete, Jakarta Selatan, pada 2015. Pembukaan dilakukan tanpa seremoni besar, hanya syukuran sederhana bersama warga sekitar.

Seiring waktu, menu Kopi Susu Tetangga mendapat sambutan luas dan menempatkan Tuku sebagai salah satu pionir kopi susu gula aren di Tanah Air. Saat ini Kopi Tuku bernaung di bawah PT Makna Angan Karya Andanu (MAKA Group) dan masih melekat sebagai simbol pelopor coffee shop lokal. Perjalanan Tuku menggambarkan kombinasi modal terbatas, keberanian mencoba dan membenahi konsep, serta kepekaan membaca kebutuhan pasar sebagai fondasi yang membantu usaha bertahan dan berkembang.

Tantangan saat usaha membesar

Namun, tantangan kerap muncul ketika usaha yang awalnya kecil berkembang lebih cepat dari perkiraan. Dapur rumah yang semula mampu memproduksi sekitar 15 porsi per hari, misalnya, bisa kewalahan saat harus melayani 100 pesanan. Pada tahap ini, kelemahan manajemen mulai terlihat.

Masalah yang sering muncul antara lain standar rasa yang tidak konsisten, keterlambatan pengiriman, hingga kesulitan mengatur karyawan baru yang direkrut mendadak. Kondisi ini kerap terjadi pada bisnis yang tumbuh tanpa fondasi sistem operasional yang rapi, pencatatan keuangan yang jelas, serta pembagian tugas yang tegas. Popularitas yang datang cepat bisa ikut runtuh bila tidak diimbangi pengelolaan yang memadai.

Belajar manajemen sambil berjalan

Sejumlah pelaku kuliner muda menjalankan bisnis tanpa latar pendidikan bisnis formal. Mereka belajar melalui trial and error, menyimak konten edukasi bisnis di media sosial, atau bertanya kepada pengusaha yang lebih berpengalaman. Cara belajar ini memang tidak selalu sistematis, tetapi langsung diterapkan pada persoalan nyata yang dihadapi sehari-hari.

Seiring berkembangnya usaha, sebagian mulai menyadari kebutuhan pengetahuan manajemen yang lebih formal, terutama terkait pencatatan keuangan, manajemen sumber daya manusia ketika jumlah karyawan bertambah, hingga strategi ekspansi yang lebih terukur. Pada titik ini, kemampuan membangun sistem kerap menjadi pembeda antara usaha yang hanya bertahan sebentar karena tren dan usaha yang mampu tumbuh lebih solid.

Kesimpulan

Bisnis kuliner Gen Z kerap dipandang sebatas mengikuti tren viral. Namun, di balik kreativitas produk dan kemasan, terdapat praktik manajemen yang tumbuh melalui pengalaman—mulai dari efisiensi biaya, pemasaran berbasis media sosial, hingga penyesuaian cepat terhadap respons pasar. Kreativitas dapat membuka pintu perhatian, tetapi keberlanjutan usaha ditentukan oleh kemampuan mengelola operasional, keuangan, dan tim ketika skala bisnis membesar.