Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi kelompok 3B—ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD—akan diberikan dalam dua bentuk, yakni makanan siap santap dan paket sehat. Penegasan ini disampaikan dalam penguatan tata kelola distribusi sekaligus rencana perluasan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada 2026.
Skema distribusi dan frekuensi pengiriman MBG 3B telah diatur dalam petunjuk teknis yang tercantum pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 115 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Program MBG. Sekretaris Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola BGN, Ermia Sofiyessi, menyebut pengiriman dilakukan secara terjadwal agar manfaat gizi diterima optimal oleh sasaran.
Menurut Ermia, distribusi MBG siap santap dilakukan setiap Senin dan Kamis. Pada hari Senin, pengiriman MBG siap santap dibarengi dengan penyerahan paket sehat untuk kebutuhan Selasa dan Rabu. Skema serupa juga berlaku pada hari Kamis.
Untuk ibu hamil dan ibu menyusui, MBG siap santap disusun sebagai makanan lengkap yang mengandung karbohidrat, protein, serat, dan lemak sesuai angka kecukupan gizi (AKG) yang ditetapkan ahli gizi. Adapun paket MBG sehat untuk kelompok ini mencakup minuman khusus ibu hamil atau menyusui, serta dilengkapi telur dan buah sebagai penunjang asupan harian.
Sementara itu, bagi balita non-PAUD usia 0–2 tahun, MBG siap santap juga berupa makanan lengkap sesuai AKG. Paket MBG sehat untuk kelompok ini terdiri atas makanan pendamping ASI (MPASI) dan buah, dengan tekstur yang disesuaikan kebutuhan bayi di bawah dua tahun (baduta).
BGN juga menekankan pentingnya pendataan penerima manfaat. Ermia menyatakan seluruh kepala SPPG diminta aktif mendata ibu hamil, ibu menyusui, dan balita dengan berkoordinasi bersama puskesmas, posyandu, serta kelurahan.
Setelah pendataan, SPPG dapat menyiapkan MBG sesuai standar gizi seimbang dan pemorsian berdasarkan kelompok usia. Mekanisme penerimaan MBG untuk kelompok 3B dapat disesuaikan melalui penjadwalan yang disepakati dengan posyandu atau melalui kesepakatan lain bersama kader, termasuk opsi pengantaran ke rumah atau pengambilan langsung oleh penerima manfaat.
Untuk wilayah terpencil, BGN menyebut telah merancang skema distribusi khusus dan sebagian telah dijalankan di sejumlah SPPG. Selain memastikan penyaluran tepat sasaran, kader juga dinilai memegang peran penting dalam edukasi gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Dari sisi infrastruktur layanan, pada 2025 tercatat 32.000 SPPG telah beroperasi secara nasional. Seiring tingginya partisipasi masyarakat, BGN menaikkan target menjadi 33.670 SPPG pada 2026, dengan rincian 25.400 unit di daerah aglomerasi dan 8.270 unit di wilayah terpencil.
BGN juga menyampaikan adanya penambahan penerima manfaat pada 2026. Jika pada 2025 guru dan tenaga kependidikan belum menerima MBG, maka mulai Januari 2026 kelompok tersebut disebut akan mulai mendapatkan MBG di sekolah.
Perluasan SPPG dan penambahan penerima manfaat ini menjadi bagian dari strategi penguatan Program Makan Bergizi Gratis agar cakupan pemenuhan gizi bagi kelompok rentan—termasuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD—semakin merata, sekaligus memperluas jangkauan layanan bagi tenaga pendidik.

