Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan rancangan menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk pelajar telah mengacu pada standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang diterbitkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). BGN menyebut penyusunan menu harian dilakukan dengan pengawasan ketat dan melibatkan tenaga ahli gizi tersertifikasi di tiap wilayah.
Penegasan tersebut disampaikan untuk merespons keraguan sejumlah orang tua murid terkait kualitas dan kecukupan gizi makanan yang dibagikan melalui program MBG. Dengan rujukan AKG, BGN menekankan bahwa menu tidak disusun secara seragam untuk semua usia, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan energi dan zat gizi pada tiap jenjang pendidikan.
Dalam rancangan yang dipaparkan, kebutuhan kalori makan siang dibedakan berdasarkan tingkat sekolah. Untuk jenjang SD, porsi makan siang dirancang menyumbang sekitar 400–500 kalori. Sementara untuk SMA/SMK, porsi makan siang disiapkan lebih besar, hingga sekitar 700 kalori per porsi.
Selain kalori, BGN juga menekankan pemenuhan protein, terutama dari sumber hewani. Dalam standar yang dijelaskan, setiap kotak makan diwajibkan memuat protein hewani tunggal, dengan ketentuan minimal 15–20 gram protein hewani per porsi. Gambaran porsi tersebut antara lain setara satu potong ayam ukuran sedang, satu ekor ikan kembung ukuran sedang, atau kombinasi satu butir telur rebus dengan tambahan teri.
Rincian komposisi menu yang disajikan dalam panduan tersebut mencakup pembagian porsi karbohidrat, lauk protein hewani, serta sayur dan buah pada tiap jenjang pendidikan. Untuk PAUD/TK, rentang kalori makan siang berada di kisaran 300–400 kalori, dengan porsi karbohidrat sekitar 1 centong nasi kecil (75–100 gram), lauk berupa 1 butir telur atau 1 potong kecil ikan, serta sayur dan buah dalam porsi kecil.
Pada jenjang SD (kelas 1–6), rentang kalori makan siang 400–500 kalori, dengan porsi karbohidrat sekitar 1,5 centong nasi (100–150 gram), lauk berupa 1 potong ayam sedang atau 1 ekor ikan, disertai 1 mangkuk sayur dan 1 potong buah segar.
Untuk SMP, rentang kalori makan siang berada pada 500–600 kalori. Porsi karbohidrat disebut sekitar 2 centong nasi (150–200 gram), lauk berupa 1 potong besar ayam atau daging sapi, serta sayur dalam 1 mangkuk penuh dan 1 buah utuh.
Sementara SMA/SMK dirancang pada rentang 600–700 kalori, dengan porsi karbohidrat 2 hingga 2,5 centong nasi (200–250 gram). Lauk disebut berupa 1 potong daging tebal dengan pendamping tempe atau tahu, dengan total protein sekitar 20 gram, serta porsi sayur hijau dominan dan 1 potong buah besar.
Di luar komposisi makro, standar menu MBG juga memuat perhatian pada mikronutrien. Dalam paparan tersebut, disebutkan bahwa standar MBG 2026 mewajibkan adanya unsur zink dan zat besi dalam racikan menu. Zat besi disebut penting karena risiko anemia dinilai tinggi, terutama pada remaja putri usia SMP dan SMA.
Selain aspek gizi, BGN turut menekankan faktor keamanan pangan. Dalam ketentuan yang dijelaskan, makanan harus dikonsumsi maksimal 3–4 jam setelah proses memasak selesai. BGN juga menyebut adanya larangan penggunaan penyedap rasa (MSG) secara berlebihan serta pemanis buatan.
Dengan penjelasan tersebut, BGN menegaskan bahwa standar AKG menjadi acuan dalam penyusunan menu MBG, baik dari sisi jumlah energi, komposisi protein hewani, mikronutrien, maupun batas waktu konsumsi untuk menjaga keamanan makanan.

