Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat sedikitnya 4.711 orang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi hidangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai wilayah Indonesia. Angka tersebut merupakan hasil investigasi awal yang dilakukan sejak awal pelaksanaan MBG hingga Senin (22/9/2025).
Kepala BGN Dadan Hindayana menyatakan pihaknya menyesalkan kejadian tersebut dan menyampaikan keprihatinan atas masih adanya dugaan gangguan kesehatan yang terjadi di sejumlah daerah.
Dalam pemaparan BGN, wilayah dengan jumlah dugaan terdampak terbanyak berada di Pulau Jawa. Wilayah II yang mencakup Pulau Jawa tercatat memiliki 27 kasus gangguan kesehatan peserta didik yang dialami oleh 2.606 orang.
Sementara itu, wilayah I yang meliputi Pulau Sumatra mencatat sekitar 1.281 orang yang diduga mengalami gangguan kesehatan terkait MBG. Adapun wilayah III yang terdiri dari Pulau Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua mencatat 11 dugaan kasus keracunan yang melibatkan 824 peserta didik.
Terkait penyebab, BGN mengidentifikasi sebagian besar kejadian dipicu oleh munculnya dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) baru yang dinilai masih membutuhkan pembiasaan dalam melayani peserta didik dalam jumlah besar. Karena itu, BGN menyatakan akan memperketat pengawasan serta prosedur dalam penyediaan makanan program MBG.
Di sisi lain, sejumlah pihak sebelumnya mengingatkan potensi dampak program MBG apabila terus berjalan tanpa evaluasi menyeluruh. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan lembaga riset ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) termasuk yang menyampaikan peringatan tersebut.
Kepala Pusat Ekonomi Digital dan UMKM Indef, Izzudin Al Farras, menyebut pihaknya mencatat sedikitnya 4.000 siswa menjadi korban keracunan makanan MBG hingga akhir Agustus 2025, meski belum memiliki angka terbaru hingga pertengahan September. Ia menilai, tanpa perbaikan, jumlah korban berpotensi terus bertambah.
Izzudin juga menyinggung kemungkinan munculnya beragam persoalan lain, mulai dari dugaan dapur SPPG fiktif, pemberian bahan mentah, temuan hewan hidup di makanan, hingga dugaan ompreng atau food tray MBG dari minyak babi. Selain itu, ia menyoroti alokasi anggaran MBG tahun 2026 sebesar Rp335 triliun yang dinilai berpotensi membebani fiskal.

