Singkong bagi masyarakat Ende-Lio bukan sekadar makanan selingan. Pangan lokal ini menjadi bahan utama yang diolah dalam beragam bentuk, salah satunya Alu Ndene, yang disebut sebagai produk sampingan dari proses pembuatan hidangan tradisional Uwi Ndota (ubi kayu cincang).
Praktik pengolahan tersebut mencerminkan cara orang tua dan leluhur memanfaatkan hasil bumi tanpa menyisakan bagian yang terbuang. Dalam pembuatan Alu Ndene, air perasan singkong diendapkan hingga menjadi pati, lalu dikeringkan menjadi tepung. Cara ini menunjukkan penerapan konsep nol limbah (zero waste) dalam kedaulatan pangan lokal yang telah dijalankan turun-temurun.
Bahan-bahan yang digunakan juga sepenuhnya bersumber dari lingkungan sekitar, seperti singkong, kelapa, garam, dan gula merah dari pohon aren. Kesederhanaan ini menegaskan bahwa ketahanan pangan dapat bertumpu pada kearifan lokal dan pemanfaatan sumber daya yang tersedia di wilayah sendiri.
Di balik prosesnya yang sederhana, Alu Ndene memiliki peran lain sebagai kudapan pilihan untuk berbuka puasa. Berbahan dasar pati singkong atau ubi kayu, Alu Ndene menjadi sumber karbohidrat yang dapat membantu memenuhi kebutuhan energi setelah seharian berpuasa.
Sejumlah penelitian yang dirujuk dalam tulisan ini menyebut singkong melepaskan glukosa lebih perlahan, sehingga dinilai lebih cocok untuk pencegahan dan pengelolaan diabetes mellitus karena memberi energi lebih stabil tanpa lonjakan gula darah yang cepat (Eyinla et al., 2021).
Kandungan nutrisinya dilengkapi dengan tambahan parutan kelapa dan siraman gula merah. Rujukan penelitian lain menyatakan kelapa dapat memberikan asupan lemak nabati dan serat, sementara gula merah menyediakan glukosa alami yang cepat diserap tubuh untuk membantu meningkatkan kadar gula darah yang menurun, terutama selama berpuasa (Ningsih et al., 2024; Vijayakumar et al., 2018).
Dengan perpaduan rasa manis dan gurih, Alu Ndene tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menghadirkan asupan yang bermanfaat bagi kebugaran tubuh. Pemanfaatan pangan lokal segar dan alami seperti ini dinilai dapat menjadi alternatif hidangan sehari-hari maupun pilihan berbuka puasa, sekaligus menjaga keterhubungan dengan kekayaan kuliner Nusantara yang berakar pada tradisi.

