BERITA TERKINI
Ahli Gizi Unsoed Sarankan Menu MBG Selama Ramadhan Tetap Penuhi Energi dan Protein Anak

Ahli Gizi Unsoed Sarankan Menu MBG Selama Ramadhan Tetap Penuhi Energi dan Protein Anak

Purwokerto — Ahli gizi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Prof Hery Winarsi, merekomendasikan penyusunan menu ideal dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadhan agar tetap memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi anak sekolah.

Menurut Prof Hery, keluhan masyarakat mengenai menu MBG yang dinilai terlalu sederhana atau hanya berisi makanan ringan seperti roti dan kurma perlu dijawab dengan perencanaan menu yang lebih berkualitas. Ia menegaskan, tujuan MBG adalah perbaikan gizi, bukan sekadar penyediaan takjil.

Ia menjelaskan, menu MBG pada bulan puasa perlu disesuaikan dengan perubahan pola makan anak, namun tetap mengacu pada prinsip gizi seimbang. Kontribusi energi dari MBG idealnya sekitar 30–35 persen dari kebutuhan harian anak, sehingga komposisi kalori dan protein perlu dihitung secara cermat.

Untuk anak sekolah dasar usia 7–12 tahun, kebutuhan energi harian berkisar 1.600–2.000 kilokalori. Karena itu, MBG disarankan menyumbang sekitar 500–650 kilokalori dengan kandungan protein minimal 15–20 persen. Sementara anak sekolah menengah pertama usia 13–15 tahun memerlukan 2.000–2.400 kilokalori per hari, sehingga kontribusi MBG yang dianjurkan berada pada kisaran 600–800 kilokalori dengan protein minimal 20–25 gram per porsi.

Prof Hery menyarankan penggunaan karbohidrat kompleks seperti nasi merah, ubi, atau kentang agar anak merasa kenyang lebih lama. Ia juga menekankan pentingnya sumber protein hewani seperti ayam, telur, ikan, atau daging untuk menjaga massa otot selama puasa, serta melengkapi dengan protein nabati seperti tempe dan tahu. Sayur dan buah dinilai wajib hadir sebagai sumber serat, vitamin, dan mineral, sementara lemak sehat dapat menjadi pelengkap untuk menambah asupan energi.

“Minimal ada satu protein hewani, satu protein nabati, satu sayur, dan satu buah dalam satu porsi. Itu sudah mencerminkan gizi seimbang,” katanya.

Terkait distribusi, ia menyarankan makanan dibagikan mendekati waktu berbuka agar tetap segar. Namun, jika penyaluran harus dilakukan pada pagi hari, menu perlu dipilih yang tahan disimpan selama 6–8 jam dengan pengemasan higienis agar mutu dan keamanan pangan terjaga.

Ia juga memberikan contoh variasi menu MBG selama Ramadhan untuk lima hari sekolah. Pada hari pertama, menu dapat berupa nasi putih, ayam panggang bumbu kuning, tumis buncis dan wortel, serta tempe panggang. Paket tersebut dilengkapi dua butir kurma dan susu UHT plain 200 mililiter tanpa tambahan gula, dengan perkiraan energi 640–750 kilokalori dan protein sekitar 25 gram.

Untuk hari kedua, menu bisa diganti dengan nasi merah, telur rebus, perkedel tahu, sayur tumis hijau, pisang ukuran sedang, dan air mineral. Totalnya diperkirakan mengandung 600–700 kilokalori dengan protein 20–22 gram.

Pada hari ketiga, ia menyarankan ubi kukus sekitar 200 gram sebagai sumber karbohidrat kompleks, dipadukan dengan rendang ayam suwir, lalap mentimun dan irisan tomat, kacang rebus, serta susu kedelai fortifikasi. Menu ini diperkirakan memenuhi energi sekitar 650 kilokalori dengan protein 22 gram.

Menu hari keempat dapat berupa nasi putih, ikan tongkol suwir, oseng tempe, sayur bening bayam, dan apel, dengan energi sekitar 650–700 kilokalori dan protein sekitar 23 gram.

Sementara pada hari kelima, menu yang disarankan adalah nasi putih, semur daging atau ayam, tahu bacem, capcay sayur, dan susu UHT plain, dengan total energi sekitar 700–800 kilokalori dan protein sekitar 25 gram.

Selain menu basah, Prof Hery menyebut alternatif menu kering jika diperlukan, seperti roti gandum isi tuna, telur rebus, kacang panggang, dan buah apel.

Ia juga mendorong pencantuman informasi komposisi gizi pada kemasan agar orang tua memahami nilai gizi yang diberikan sekaligus meningkatkan transparansi program. Menurutnya, fokus utama MBG selama Ramadhan tetap pada pemenuhan kebutuhan energi dan zat gizi anak, sehingga dengan perencanaan yang baik, keluhan dapat diminimalkan dan tujuan program tetap tercapai.