Jakarta — Menjelang Lebaran, sebagian orang memilih menu berbuka puasa yang praktis dan mengenyangkan. Mi instan kerap menjadi pilihan, terutama bagi mereka yang sedang dalam perjalanan mudik.
Namun, ahli gizi mengingatkan bahwa berbuka puasa hanya dengan mi instan tidak direkomendasikan karena tubuh tetap membutuhkan asupan nutrisi yang tidak didapatkan selama berpuasa.
Ahli gizi Mochammad Riza, SGz, menjelaskan kandungan mi instan pada umumnya didominasi karbohidrat dan kalori. Meski karbohidrat dibutuhkan untuk mengisi energi, tidak semua orang disarankan mengonsumsi karbohidrat berlebihan.
“Mi itu bahannya dari tepung terigu, yang merupakan sumber karbohidrat. Jadi, mi instan itu sumber karbohidrat,” ujarnya.
Menurut Riza, mengonsumsi mi instan saja dinilai kurang seimbang. Ia menyarankan menambahkan sayuran dan protein agar komposisi gizi lebih lengkap.
Selain persoalan keseimbangan gizi, mi instan juga diolah dengan bumbu yang dinilai kurang baik, seperti MSG serta kandungan sodium dalam jumlah banyak.
Dalam kesempatan berbeda, spesialis gizi dr Christopher Andrian, M.Gizi, SpGK, menyebut kalori dalam semangkuk mi instan cukup besar, sekitar 300–400 kalori. Komposisinya juga banyak berupa karbohidrat dan lemak, sehingga tetap membutuhkan tambahan protein dan serat.
Menurut Christopher, mi instan boleh dikonsumsi saat buka puasa atau sahur, tetapi tidak dianjurkan menjadi makanan harian. Jika tetap ingin mengonsumsinya, ia menyarankan menambahkan sumber protein dan sayuran, serta membagi porsi mi agar lebih seimbang.
“Jangan 1 porsi untuk sumber karbohidrat, bagi dua deh satu bungkusnya. Tambahin sumber protein dan sayuran, balance (seimbang) nggak? Tetap balance, karena mi itu pengganti nasi,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar tidak mengombinasikan mi instan dengan nasi dalam satu waktu makan. “Selama jangan makan nasi pakai mi, berat badan bisa naik. Kolesterol pasti naik kalau itu,” pungkasnya.

