BERITA TERKINI
2.101 Bisnis Kuliner di Singapura Tutup pada Januari–Juli 2026, Biaya Operasional Makin Menekan

2.101 Bisnis Kuliner di Singapura Tutup pada Januari–Juli 2026, Biaya Operasional Makin Menekan

Singapura selama ini dikenal sebagai salah satu pusat kuliner Asia, dari hawker centre hingga restoran berbintang Michelin. Namun, di balik citra tersebut, industri makanan dan minuman (food and beverage/F&B) di negara kota itu tengah menghadapi tekanan yang semakin berat.

Dalam tujuh bulan pertama 2026, sebanyak 2.101 bisnis F&B di Singapura berhenti beroperasi. Angka itu naik 25,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, berdasarkan data Accounting and Corporate Regulatory Authority (ACRA) yang dikutip The Straits Times pada 27 Agustus 2026.

Secara keseluruhan, penutupan bisnis di Singapura pada Januari–Juli 2026 meningkat 12,8% menjadi 38.146 entitas. Meski demikian, pembukaan bisnis baru masih lebih tinggi, yakni 49.305 entitas pada periode yang sama. Di sektor F&B sendiri, terdapat 2.594 bisnis baru yang terdaftar selama tujuh bulan pertama 2026.

Data tersebut menunjukkan situasi yang tampak paradoksal. Di satu sisi, minat masuk ke bisnis kuliner masih besar, seiring hambatan masuk yang relatif rendah, perubahan tren konsumsi, serta daya tarik pasar Singapura. Namun di sisi lain, tekanan biaya membuat banyak pelaku usaha kesulitan mempertahankan bisnis dalam jangka panjang.

Sejumlah nama populer turut terdampak. Tom’s Palette, gerai gelato lokal yang telah beroperasi selama 21 tahun, mengumumkan rencana penutupan gerainya pada pertengahan hingga akhir Oktober 2026. Co-owner sekaligus General Manager Tom’s Palette, Faith Yap, menyebut bisnis dessert pada dasarnya hanya ramai dalam beberapa jam tertentu setiap hari, sementara biaya tetap terus berjalan sepanjang waktu.

Pantler, patiseri yang dikenal dengan dessert Jepang-Prancis, juga mengumumkan rencana tutup pada 30 Agustus 2026 jika tidak menemukan penerus bisnis. Co-founder Pantler, Matthias Phua, menyampaikan kenaikan biaya operasional dan lingkungan bisnis yang semakin menantang sebagai alasan utama.

Tekanan terbesar disebut berasal dari biaya sewa, tenaga kerja, utilitas, dan bahan baku. Reuters pada 10 Agustus 2025 melaporkan bahwa penutupan usaha F&B di Singapura meningkat tajam pada 2025, dengan rata-rata 307 penutupan per bulan pada awal 2025. Angka itu lebih tinggi dibandingkan 254 penutupan per bulan pada 2024 dan sekitar 230 penutupan per bulan pada 2022–2023. Para operator menilai kenaikan biaya berlangsung bersamaan dengan melemahnya belanja konsumen untuk makan di luar.

Perubahan perilaku konsumen juga memperberat situasi. Setelah pembatasan pandemi dicabut dan pariwisata pulih, sebagian warga Singapura kembali memprioritaskan perjalanan ke luar negeri. Dengan dolar Singapura yang kuat, makan dan berlibur di kota-kota Asia Tenggara lain dapat terasa lebih murah dibandingkan bersantap di dalam negeri. Kondisi ini dinilai mengurangi frekuensi kunjungan ke restoran lokal, terutama untuk segmen menengah dan premium.

Isu sewa terlihat di kawasan-kawasan populer seperti Kampong Glam dan Haji Lane. Channel News Asia pada 12 Januari 2026 melaporkan sejumlah penyewa di Haji Lane mengalami kenaikan sewa dari sekitar S$3.000 menjadi hampir S$10.000 per bulan dalam beberapa tahun terakhir. Setidaknya 10 toko di kawasan itu tutup dalam tiga tahun terakhir. Selain kenaikan sewa, praktik subletting dan masuknya brand yang mampu membayar lebih mahal disebut ikut mengubah wajah kawasan tersebut.

Pemerintah Singapura menilai sektor F&B merupakan industri yang sangat kompetitif. Dalam jawaban resmi Ministry of Trade and Industry pada Februari 2026, pemerintah menyatakan sektor jasa makanan memiliki hambatan masuk yang rendah, tingkat substitusi produk yang tinggi, serta perubahan preferensi konsumen yang cepat.

Meski terjadi gelombang penutupan, pemerintah juga mencatat bahwa pada periode 2015–2025 jumlah entitas F&B secara neto masih meningkat 42%, karena pembentukan bisnis baru pada sebagian besar tahun masih melampaui jumlah penutupan.

Dengan demikian, peningkatan penutupan pada 2026 tidak serta-merta berarti industri kuliner Singapura runtuh. Situasi ini lebih mencerminkan seleksi yang semakin keras, di mana bisnis dengan konsep lemah, skala terbatas, struktur biaya berat, atau ketergantungan tinggi pada lalu lintas lokasi menjadi lebih rentan. Sementara itu, pemain baru tetap masuk, termasuk brand internasional, konsep waralaba, serta restoran dengan dukungan modal lebih kuat.

Risiko yang mengemuka adalah berkurangnya keragaman kuliner. Jika tekanan biaya terus meningkat, pasar dikhawatirkan bergerak ke arah konsep yang lebih seragam—seperti jaringan restoran, brand besar, model otomatisasi, atau gerai yang dianggap lebih aman secara komersial—sementara pelaku independen yang selama ini memberi warna lokal dan karakter unik berpotensi makin tersisih.

Kasus ini menunjukkan bahwa daya beli tinggi tidak otomatis menjamin keberlangsungan bisnis F&B. Dalam industri bermargin tipis, sewa mahal dan biaya operasional yang naik dapat menggerus keuntungan dengan cepat. Pada akhirnya, gelombang penutupan restoran di Singapura mencerminkan perubahan ekonomi kota: ruang komersial yang kian mahal, konsumen yang makin selektif, serta tuntutan bagi pelaku usaha untuk menemukan kembali formula keberlanjutan bisnisnya.