Platform Web3 Zora memperluas ekspansinya dengan meluncurkan produk baru bernama attention markets di jaringan Solana. Fitur ini memungkinkan pengguna memperdagangkan tren internet dan budaya digital, mulai dari tagar yang viral hingga narasi yang ramai dibicarakan di media sosial.
Langkah tersebut menandai pergeseran strategi Zora yang sebelumnya dikenal berfokus pada NFT di jaringan Base. Kini, Zora masuk ke ranah spekulasi berbasis atensi dengan memanfaatkan kecepatan tinggi dan biaya transaksi rendah yang menjadi karakteristik Solana.
Apa itu attention markets
Attention markets merupakan konsep pasar berbasis blockchain yang memungkinkan pengguna berspekulasi atau memperdagangkan nilai dari sebuah tren digital. Alih-alih membeli NFT atau token tradisional, pengguna dapat mengambil posisi terhadap topik viral atau fenomena budaya internet tertentu.
Konsep ini disebut memiliki kemiripan dengan platform prediksi seperti Polymarket, namun fokusnya berbeda. Jika platform prediksi umumnya berkutat pada hasil peristiwa politik atau ekonomi, attention markets menitikberatkan pada dinamika budaya dan tingkat “buzz” di media sosial.
Monetisasi atensi dalam pendekatan Web3
Model attention markets mencerminkan evolusi ekonomi digital, ketika “atensi” diperlakukan sebagai komoditas yang dapat diukur dan diperdagangkan. Dalam ekosistem Web2, perusahaan media sosial telah lama memonetisasi atensi melalui iklan. Zora mencoba membawa gagasan tersebut ke Web3 melalui pendekatan yang terdesentralisasi.
Tim Research Tokocrypto menilai inisiatif ini sebagai langkah ambisius, namun mengandung tantangan. Mereka menyoroti bahwa likuiditas masih menjadi persoalan besar, sekaligus munculnya kontroversi di komunitas Base yang menilai Zora “mengekstrak” nilai sebelum beralih ke Solana.
Reaksi komunitas Base
Perpindahan Zora ke Solana memicu respons beragam di komunitas Base. Sebelumnya, Zora dikenal sebagai salah satu proyek NFT yang cukup aktif di jaringan layer-2 tersebut. Sebagian anggota komunitas menilai ekspansi ini sebagai bentuk “ekstraksi nilai” sebelum berpindah ekosistem.
Di sisi lain, ekspansi lintas jaringan bukan hal baru dalam industri blockchain. Sejumlah proyek Web3 memilih pendekatan multi-chain untuk memperluas jangkauan pengguna sekaligus memanfaatkan keunggulan teknis dari masing-masing jaringan.
Tantangan likuiditas dan risiko adopsi
Seperti banyak produk kripto inovatif lainnya, attention markets menghadapi tantangan utama berupa keterbatasan likuiditas pada fase awal. Selain itu, terdapat risiko lain yang perlu diperhitungkan, seperti potensi manipulasi tren, ketergantungan pada dinamika media sosial, serta volatilitas tinggi akibat spekulasi jangka pendek.
Jika volume perdagangan tidak cukup besar, selisih harga (spread) dapat melebar dan menurunkan daya tarik bagi trader. Di saat yang sama, tren internet bersifat cepat dan sulit diprediksi: sebuah narasi bisa melonjak dalam hitungan jam, lalu menghilang dalam waktu singkat.
Eksperimen berisiko tinggi
Peluncuran attention markets menjadi eksperimen baru dalam monetisasi budaya digital. Jika berhasil, model ini berpotensi membuka kategori pasar baru di Web3 yang menggabungkan media sosial, spekulasi, dan blockchain.
Namun, risiko tetap besar. Tanpa utilitas berkelanjutan dan likuiditas yang stabil, perhatian awal dapat memudar. Bagi Zora, langkah ini menunjukkan ambisi untuk berevolusi dari platform NFT menjadi infrastruktur pasar budaya digital. Sementara bagi pengguna dan investor, perhatian kini tertuju pada seberapa cepat adopsi terjadi dan apakah model ini mampu bertahan dalam jangka panjang.

