BERITA TERKINI
Di Balik Viralnya Generative AI, Ada Jejak Energi dan Air yang Besar

Di Balik Viralnya Generative AI, Ada Jejak Energi dan Air yang Besar

Tren generative AI kian viral dan terasa dekat dalam keseharian, dari membuat gambar hingga menyusun teks hanya lewat beberapa perintah singkat. Namun di balik kemudahan itu, ada biaya lingkungan yang kerap luput dari perhatian publik.

Berbeda dari anggapan bahwa AI hanya sekadar aplikasi, sistem ini bergantung pada pusat data berskala raksasa yang beroperasi 24 jam sehari. Skala infrastrukturnya dapat terlihat dari contoh pusat data AI milik Microsoft di Wisconsin yang disebut memiliki luas sekitar 127 hektare.

Operasi pusat data membutuhkan listrik dalam jumlah besar, yang sebagian masih bersumber dari bahan bakar fosil. Konsekuensinya, semakin tinggi penggunaan AI, semakin besar pula jejak karbon yang menyertainya.

Dampak lingkungan juga muncul sejak tahap produksi perangkat. Pembuatan komputer dan server membutuhkan mineral langka, sementara proses penambangannya berisiko merusak lingkungan dan menghasilkan limbah beracun seperti merkuri dan timbal.

Selain persoalan produksi, beban sumber daya muncul saat AI digunakan. Sejumlah analisis yang disebut dalam laporan United Nations Environment Programme (UNEP) pada 2025 menyatakan bahwa energi yang dipakai AI untuk menjawab satu permintaan kompleks bisa berkali-kali lebih besar dibandingkan pencarian sederhana di Google. Dengan kata lain, permintaan yang tampak ringan di layar ponsel dapat memerlukan energi jauh lebih besar dari yang dibayangkan.

Tak hanya listrik, pusat data juga membutuhkan air dalam jumlah sangat besar untuk mendinginkan server agar dapat bekerja tanpa henti. UNEP mencatat konsumsi air infrastruktur AI bisa mencapai skala yang sangat besar. Dalam beberapa analisis, penggunaan airnya bahkan diperkirakan dapat mencapai enam kali lebih banyak dibandingkan konsumsi air di Denmark yang berpopulasi sekitar enam juta orang.

Di saat yang sama, jutaan orang di berbagai belahan dunia masih kesulitan mengakses air bersih. Kontras ini menyoroti dilema: di satu sisi ada kebutuhan dasar yang belum terpenuhi, sementara di sisi lain sistem digital menghabiskan air dalam jumlah besar untuk menjaga mesin tetap dingin.

Ironinya, sebagian sumber daya itu kadang digunakan untuk menghasilkan konten yang hanya bertahan beberapa detik di layar ponsel—ditonton sebentar, lalu segera tergeser oleh tren berikutnya. Pada tingkat individu, satu permintaan memang terasa kecil. Namun ketika miliaran permintaan dibuat setiap hari, terutama untuk hiburan yang tidak memiliki nilai jangka panjang, dampaknya berubah menjadi akumulasi konsumsi energi dan sumber daya yang sangat besar.