Seorang perempuan di Surabaya, Lilla Syifa (29), mengungkap pengalamannya didiagnosis diabetes tipe 1,5 atau LADA (Latent Autoimmune Diabetes in Adults). Ia menyebut pola hidup yang kurang sehat sebagai salah satu faktor yang menyertai kondisi tersebut.
Perempuan yang akrab disapa Cipa itu mengatakan, ia terbiasa mengonsumsi makanan dan minuman manis setiap hari, termasuk jajanan yang sedang viral serta minuman seperti matcha. Selain itu, ia mengaku jarang berolahraga dan memiliki pola tidur yang buruk karena sering begadang.
Sebelum mengetahui dirinya mengalami diabetes, Cipa merasakan sejumlah gejala. Namun, ia menilai tanda-tanda tersebut tidak jelas sehingga membutuhkan waktu cukup lama untuk menyadari adanya masalah terkait gula dalam tubuhnya.
Kram kaki
Salah satu keluhan yang ia alami adalah kram kaki, terutama di betis atau jari kaki yang tiba-tiba menegang. Pada awalnya, ia mengira hal itu disebabkan faktor lain, seperti kelelahan atau penggunaan sepatu hak tinggi.
“Sekitar Mei atau Juni 2025, aku tuh sering kram kaki kayak di betis atau kayak di jari kaki yang tiba-tiba kayak melengkung gitu. Aku pertama nggak nyadar, mungkin karena sepatu nggak enak karena pakai heels terus ya,” kata Cipa.
Mudah haus
Gejala lain yang dirasakannya adalah rasa haus berlebihan (polidipsia), meski ia merasa sudah banyak minum air. Ia juga mengalami bibir kering hingga terlihat oleh orang-orang di sekitarnya.
“Aku gampang banget haus padahal minumku banyak banget. Bahkan bibir itu sampai bener-bener kering. Keringnya sampai orang-orang notice ya, sampai ngelopek semua,” ujarnya.
Ia menceritakan pernah mengalami situasi ketika kehabisan air saat berada di perjalanan dan merasakan dahaga yang sangat kuat. “Bener-bener yang kelabakan cari air. Haus banget, dahaga kayak di padang gurun,” katanya.
Sering buang air kecil
Cipa juga mengalami poliuria atau sering buang air kecil. Ia menggambarkan intensitasnya yang sangat sering hingga membuatnya mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Ia juga merasakan pusing, lemas, dan tubuh terasa lunglai.
“Sehari tuh banyak banget deh. Kayak 10 menit udah pipis lagi. Nah dari situ aku mulai nyadarnya. Kepala juga kayak keliyengan gitu, pusing banget, lemas, lunglai,” ucapnya.
Dalam penanganan medis yang dijalaninya, Cipa menyebut dokter sempat menyarankan tindakan cuci darah (hemodialisis) karena fungsi ginjalnya disebut hanya 10 persen dan fungsi pankreas menurun. Namun, tindakan tersebut tidak dilakukan karena kondisi fungsi ginjalnya perlahan membaik.
Ia mengatakan sempat diberi penjelasan mengenai risiko komplikasi yang serius. “Waktu itu dokter bilang aku ada kemungkinan hilang ingatan, kemungkinan hilang kemampuan motorik,” katanya.
Cipa menuturkan kondisi yang dialaminya bukan sekadar soal mengurangi konsumsi gula, karena menurutnya kadar gula yang tinggi telah berdampak pada organ tubuh lainnya. “Karena bener-bener, itu kan udah komplikasi ya bukan sekadar nurunin makan gula doang, udah kena ke organ-organ lainnya. Gulanya merusak organ lainnya,” ujarnya.

