BERITA TERKINI
Viral “Transisi Imam Tarawih” di TikTok Memicu Perdebatan: Syiar Kreatif atau Riya?

Viral “Transisi Imam Tarawih” di TikTok Memicu Perdebatan: Syiar Kreatif atau Riya?

Ramadan di era digital kembali melahirkan tren yang ramai diperbincangkan. Tahun ini, TikTok diramaikan konten bertema “transisi imam tarawih”, yakni video yang menampilkan seseorang dengan pakaian harian—seperti kaus atau kemeja kerja—lalu beralih cepat dalam satu transisi visual menjadi sosok yang berdiri rapi di depan jemaah, siap memimpin salat.

Formatnya sederhana, namun daya tarik visualnya membuat tren ini cepat menyebar. Di sisi lain, kemunculannya juga memunculkan perdebatan di kalangan warganet: apakah konten tersebut merupakan bentuk syiar yang kreatif dan inspiratif, atau justru termasuk pamer ibadah (riya) demi pengakuan di media sosial.

Kelompok yang mengkritik tren ini menilai ibadah sebagai wilayah yang semestinya dijaga privasinya. Salat—terlebih peran sebagai imam—dipandang sebagai bentuk pengabdian yang perlu dijauhkan dari dorongan duniawi. Kehadiran kamera di masjid, pengaturan sudut pengambilan gambar, hingga upaya menyelaraskan transisi video dianggap berpotensi mengganggu kekhusyukan.

Kekhawatiran terbesar mereka adalah munculnya riya, ketika ibadah yang semestinya ditujukan untuk Tuhan bergeser menjadi tindakan yang diproduksi sebagai konten dan diarahkan untuk pujian manusia atau sekadar mengejar keterlibatan (engagement). Kritik seperti “ibadah kok dikontenkan?” pun kerap muncul sebagai bentuk kehati-hatian dalam menjaga nilai sakral agama.

Namun, ada pula pandangan yang melihat tren ini sebagai bentuk syiar yang relevan dengan zaman. Konten transisi tersebut dinilai dapat mendobrak citra imam yang selama ini kerap diasosiasikan dengan sosok kaku atau hanya milik kalangan tertentu. Lewat video singkat, tren itu memperlihatkan bahwa anak muda yang modern, aktif bekerja, dan akrab dengan teknologi tetap bisa hadir dan taat di masjid.

Bagi pengguna muda yang banyak menghabiskan waktu di TikTok, konten semacam ini disebut bisa memberi efek psikologis positif. Kesalehan tidak lagi dipersepsikan membosankan, melainkan tampil sebagai sesuatu yang menarik secara visual dan dapat memantik kebanggaan identitas spiritual. Pendukung tren ini beranggapan, jika konten tersebut mampu mendorong seseorang untuk datang ke masjid atau memperbaiki bacaan Al-Qur’an, maka dampaknya dapat dipandang sebagai keberhasilan syiar.

Perdebatan syiar atau riya juga dinilai sulit menemukan titik akhir jika hanya menilai dari tampilan luar. Sebab, niat berada di ranah batin yang tidak bisa diukur orang lain. Menuduh seseorang riya hanya dari sebuah konten yang mengarah pada kebaikan berisiko menumbuhkan prasangka. Pada akhirnya, kualitas dan penerimaan ibadah dipandang sebagai hak Tuhan.

Meski demikian, pembuat konten tetap diingatkan untuk melakukan evaluasi niat secara berkala: memastikan tujuan utamanya menginspirasi dan mengajak pada kebaikan, bukan semata mengejar angka-angka di statistik media sosial. Sementara bagi penonton, jika konten tersebut memberi dorongan positif untuk beribadah, inspirasi itu dapat diambil tanpa harus terjebak pada penghakiman niat orang lain.

Tren “transisi imam tarawih” memperlihatkan bagaimana ruang digital dan ekspresi keberagamaan kini saling bersinggungan. Di tengah pro dan kontra, fenomena ini menegaskan bahwa Ramadan tetap menjadi momen transformasi—baik di dunia nyata maupun di linimasa.