Fenomena “Tepuk Sakinah” belakangan ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah video memperlihatkan pasangan calon pengantin bersama petugas Kantor Urusan Agama (KUA) melakukan tepuk tangan sambil melantunkan yel-yel singkat. Aksi yang terlihat sederhana dan menyenangkan itu kemudian memunculkan pertanyaan di kalangan warganet: apakah Tepuk Sakinah wajib dilakukan oleh setiap pasangan yang akan menikah?
Tepuk Sakinah merupakan metode edukasi pranikah yang dikemas secara kreatif untuk menyampaikan nilai-nilai penting dalam membangun rumah tangga. Metode ini menjadi bagian dari program Bimbingan Perkawinan (Bimwin) yang diselenggarakan Kementerian Agama.
Salah satu penggagasnya, Prof Alimatul Qibtiyah, menjelaskan Tepuk Sakinah lahir dari kreativitas para instruktur Bimwin sejak 2018. Ia menyebut metode ini dibuat sebagai strategi untuk menghidupkan nilai kesalingan, kesetaraan, dan kebersamaan dalam keluarga dengan cara yang lebih menyenangkan.
Gerakan dan lirik Tepuk Sakinah terinspirasi dari lima pilar Keluarga Sakinah. Pilar pertama adalah “berpasangan” yang melambangkan ikatan suci pernikahan. Pilar kedua, “janji kokoh (mitsaqon ghalidho)”, mengingatkan bahwa pernikahan merupakan janji suci kepada Allah SWT. Pilar ketiga menekankan “saling memberi kebaikan”, termasuk saling mencintai, menghormati, dan menjaga. Pilar keempat adalah “musyawarah” yang menegaskan pentingnya komunikasi dalam mengambil keputusan bersama. Pilar kelima, “tarodhin (saling ridha)”, menekankan keikhlasan menerima kelebihan dan kekurangan pasangan sebagai kunci keharmonisan.
Terkait pertanyaan soal kewajiban, Prof Alimatul menegaskan Tepuk Sakinah tidak bersifat wajib. Menurutnya, metode tersebut hanya salah satu strategi pembelajaran agar pilar-pilar keluarga sakinah dapat diterima dengan cara yang lebih menyenangkan, tanpa ada keharusan bagi calon pengantin untuk melakukannya.
Adapun yang diwajibkan oleh Kementerian Agama adalah keikutsertaan calon pengantin dalam program Bimbingan Perkawinan (Bimwin). Program ini ditujukan untuk membekali pasangan dengan pengetahuan sebelum memasuki kehidupan rumah tangga. Dalam pelaksanaannya, Tepuk Sakinah dapat digunakan sebagai salah satu metode karena dinilai interaktif dan membantu peserta memahami materi dengan lebih mudah.

