BERITA TERKINI
Viral Angka 67 di TikTok: Asal-usul Tren “Six-Seven” hingga Jadi Simbol “Brainrot”

Viral Angka 67 di TikTok: Asal-usul Tren “Six-Seven” hingga Jadi Simbol “Brainrot”

Angka 67 belakangan ramai memenuhi kolom komentar di berbagai media sosial. Sebagian pengguna juga menemukan hal tak biasa saat mengetik “67” di Google, yakni tampilan hasil pencarian yang bergoyang. Fenomena ini menjadi salah satu tren internet yang menonjol sejak awal 2025, terutama di TikTok, Reels, dan YouTube Shorts.

Tren tersebut kerap disebut “six-seven”, merujuk pada cara membacanya dalam bahasa Inggris. Meski tampak acak, angka 67 berkembang menjadi semacam simbol komunikasi di kalangan Gen Z dan Gen Alpha, bahkan disebut dinobatkan sebagai Word of the Year 2025 oleh Dictionary.com.

Awal kemunculan tren ini ditelusuri dari lagu berjudul “Doot Doot (6 7)” karya rapper Skrilla yang dirilis pada Desember 2024. Dalam lagu itu, frasa “six-seven” diulang berkali-kali tanpa makna khusus. Skrilla mengakui angka tersebut dipilih karena terdengar enak diucapkan saat diulang.

Pemicu yang membuatnya meluas disebut berasal dari video viral seorang anak di pertandingan basket yang dijuluki “6-7 Kid”. Dalam video tersebut, anak itu berteriak “six-seven!” sambil menggerakkan telapak tangan naik-turun secara ritmis. Gestur ini kemudian ditiru jutaan pengguna internet dan menjadi ciri khas meme 67.

Popularitasnya juga merambah ke mesin pencari. Google disebut menghadirkan fitur tersembunyi (easter egg): ketika pengguna mengetik “67” di kolom pencarian, layar hasil pencarian akan bergoyang naik-turun. Efek visual ini dipandang sebagai penghormatan terhadap gestur tangan dalam video viral tersebut.

Di luar asal-usulnya, tren 67 juga dikaitkan dengan budaya konten absurd yang kerap disebut “brainrot culture”. Istilah ini merujuk pada konten yang sengaja dibuat repetitif, ganjil, dan tidak memiliki makna mendalam. Meski ada yang menghubungkannya dengan tinggi badan pemain basket seperti LaMelo Ball (6 kaki 7 inci), sejumlah pengamat menilai daya tariknya justru terletak pada sifatnya yang serba acak.

Bagi banyak anak muda, mengucapkan “67” bukan lagi soal angka. Ungkapan ini digunakan sebagai respons spontan terhadap sesuatu yang dianggap aneh atau lucu, sebagai cara menutup pembicaraan secara santai, atau sebagai kode internal untuk menunjukkan seseorang mengikuti tren yang sedang berjalan.

Namun, tren ini juga memunculkan keluhan. The Guardian melaporkan sebagian guru merasa terganggu karena siswa kerap meneriakkan “six-seven!” di tengah pelajaran. Sementara itu, pengamat budaya di Forbes mengkhawatirkan tren tersebut sebagai sinyal menurunnya kualitas interaksi digital.

Terlepas dari pro dan kontra, viralnya angka 67 menunjukkan bagaimana budaya internet dapat mengubah sesuatu yang tampak tidak bermakna menjadi simbol kebersamaan—setidaknya bagi komunitas yang merasa “paham” konteksnya.