Posisi kuliner Vietnam di panggung internasional kian menguat seiring berkembangnya industri pariwisata. Namun, para ahli menilai pengakuan global itu perlu ditransformasikan menjadi kekuatan pendorong pembangunan berkelanjutan melalui perubahan pendekatan: dari sekadar promosi makanan menuju penciptaan pengalaman budaya yang unik, dengan kuliner sebagai fondasi pemposisian merek pariwisata nasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, Vietnam berulang kali meraih penghargaan dari World Culinary Awards sebagai “Destinasi Kuliner Terkemuka di Asia” pada 2019–2023 serta “Destinasi Kuliner Terkemuka di Dunia” pada 2022 dan 2023. Perluasan operasi Michelin Guide di Vietnam sejak 2023—yang memuat banyak restoran di Hanoi, Ho Chi Minh City, dan Da Nang—juga disebut menciptakan efek media internasional yang kuat dan ikut meningkatkan citra kuliner Vietnam.
Pengakuan lain datang dari media dan pemeringkatan internasional. Pada Desember 2025, majalah perjalanan Inggris Time Out memasukkan Vietnam dalam daftar 20 destinasi musim dingin terbaik dunia untuk 2025–2026, serta menempatkannya sebagai destinasi “Terbaik untuk Kuliner” bagi pelancong pencinta makanan. Sementara itu, menurut TasteAtlas 2025/2026, Vietnam berada di peringkat ke-16 dari 100 kuliner terbaik dunia, naik tiga peringkat. Capaian tersebut dinilai menegaskan daya tarik kuliner sekaligus menunjukkan potensi kuliner sebagai sumber daya budaya yang dapat membangun identitas dan daya saing destinasi.
Data Asosiasi Pariwisata Kuliner Dunia menunjukkan sekitar 81% wisatawan ingin menjelajahi kuliner lokal saat bepergian dan bersedia mengalokasikan 25–35% dari total anggaran perjalanan untuk makanan dan minuman. Industri pariwisata kuliner Vietnam diproyeksikan dapat mencapai US$20,17 miliar pada 2034, dengan pertumbuhan tahunan rata-rata 13,92% pada periode 2026–2034.
Nguyen Thi Lan Huong, M.A., dari Institut Kebudayaan, Seni, Olahraga dan Pariwisata Vietnam (Kementerian Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata), menyatakan kuliner Vietnam memasuki fase perkembangan baru—bertransformasi dari elemen pelengkap menjadi produk yang mampu mendorong permintaan pasar. Meski demikian, ia menekankan pengakuan internasional baru mencerminkan potensi. Di lapangan, sebagian besar aktivitas wisata kuliner masih berfokus pada konsumsi makanan, sementara pengalaman interaktif, partisipatif, dan kolaboratif belum meluas.
Menurutnya, kondisi tersebut menuntut perubahan cara pengembangan wisata kuliner: dari mengeksploitasi hidangan sebagai produk terisolasi menjadi menciptakan pengalaman budaya yang mendalam, di mana wisatawan menjadi peserta aktif dalam proses penciptaan nilai bersama masyarakat lokal.
Dalam konteks transformasi digital, ekonomi kreatif, dan integrasi internasional, pemanfaatan nilai budaya kuliner untuk pengembangan pariwisata memunculkan tuntutan baru pada aspek pemikiran, kebijakan, dan model pembangunan. Kebutuhan ini disebut semakin mendesak setelah Politbiro mengeluarkan Resolusi No. 57-NQ/TW tentang terobosan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan transformasi digital nasional. Resolusi tersebut dipandang sebagai landasan untuk mendorong digitalisasi warisan budaya, membangun basis data kuliner nasional, mengembangkan peta digital kuliner Vietnam, menerapkan kecerdasan buatan dalam promosi destinasi, serta menciptakan produk pariwisata kuliner cerdas.
Selain itu, Resolusi No. 68-NQ/TW tentang pengembangan ekonomi swasta dinilai membuka peluang untuk memobilisasi sumber daya dari pelaku usaha pariwisata, restoran dan hotel, teknologi, industri kreatif, hingga perusahaan rintisan di sektor kuliner guna membangun ekosistem pariwisata kuliner Vietnam.
Strategi pengembangan pariwisata Vietnam hingga 2030 menempatkan pariwisata sebagai sektor ekonomi kunci yang bertumpu pada pemanfaatan nilai budaya nasional, peningkatan daya saing, dan pembangunan merek pariwisata nasional. Dalam kerangka ini, kuliner dipandang tidak hanya sebagai produk layanan bagi wisatawan, tetapi juga komponen penting dari merek pariwisata Vietnam di tingkat internasional.
Wakil Direktur Jenderal Administrasi Pariwisata Nasional Vietnam, Nguyen Thi Hoa Mai, menilai persaingan antardestinasi sangat ketat, terutama di Asia Tenggara. Ia mencontohkan Thailand dan Singapura yang mengalokasikan anggaran negara signifikan untuk promosi pariwisata pascapandemi COVID-19. Menurutnya, bila Vietnam tidak mengubah pendekatan dan hanya berfokus pada segmen pelanggan yang sudah ada, terobosan akan sulit dicapai.
Berdasarkan riset pengalaman internasional dan tren pariwisata global, Administrasi Pariwisata Nasional Vietnam telah menyarankan Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata untuk mengajukan rencana promosi pariwisata dan kuliner Vietnam di luar negeri pada periode 2026–2030. Tujuannya adalah menjadikan kuliner sebagai elemen inti dalam pemposisian merek pariwisata nasional serta meningkatkan daya saing Vietnam sebagai destinasi di Asia dan global.
Hoa Mai juga menyebut negara-negara seperti Tiongkok, Thailand, Jepang, Korea Selatan, dan Italia telah mengembangkan strategi nasional pariwisata kuliner yang terstruktur. Fokusnya tidak hanya mempromosikan hidangan, melainkan juga budaya kuliner—menceritakan sejarah, adat istiadat, dan identitas nasional melalui setiap sajian.
Senada, Master Hoang Dao Bao Cam dari Institut Kebudayaan, Seni, Olahraga, dan Pariwisata Vietnam menekankan pentingnya penceritaan kisah budaya di balik hidangan dalam pengembangan kuliner dan pariwisata. Ia menilai tren pariwisata global bergeser dari sekadar jalan-jalan dan relaksasi menuju aktivitas berbasis pengalaman dengan muatan budaya tinggi. Dalam konteks tersebut, kuliner dipandang sekaligus sebagai produk konsumsi dan aset, bahkan alat diplomasi budaya.
Menurut Bao Cam, pengembangan pariwisata kuliner perlu berfokus pada pengalaman pengunjung agar daya tarik destinasi meningkat sekaligus memperkuat hubungan antara pelestarian dan promosi nilai tradisional. Ia menilai pariwisata kuliner Vietnam saat ini masih dominan berorientasi pada “memasak makanan lezat” tanpa menekankan penciptaan cerita menarik yang melekat pada tiap hidangan.
Ia juga mencatat produk wisata kuliner masih banyak yang bersifat spontan, kualitas layanan belum konsisten, sementara standar keamanan dan kebersihan makanan, kualitas sumber daya manusia, serta promosi dan komunikasi masih terbatas. Padahal, menurutnya, cerita budaya unik di balik setiap hidangan dapat menciptakan kesan abadi, menempel dalam ingatan wisatawan, dan menjadi pengalaman yang ingin dibagikan setelah perjalanan.
Penceritaan kisah dinilai mampu menghubungkan makanan dengan budaya lokal, mengubah aktivitas bersantap menjadi perjalanan penemuan warisan, serta menyampaikan kekayaan sejarah dan emosi kepada penikmatnya. Dalam pandangan Bao Cam, kisah budaya merupakan “jiwa” kuliner yang dapat meningkatkan daya tarik destinasi sekaligus menciptakan momentum bagi pengembangan ekonomi kreatif di era baru.

