Universitas Trisakti menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Internasional bertajuk “Indonesian Cuisine: From Cultural Identity to Community Entrepreneurship Opportunities” di restoran Warung Bali, Phnom Penh, Kamboja.
Kegiatan yang berada di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Trisakti ini melibatkan dosen lintas disiplin dan dipimpin Emelia Sari dari Fakultas Teknologi Industri. Tim terdiri atas Prof. Astri Rinanti (Fakultas Arsitektur Lanskap dan Teknologi Lingkungan), Muhammad Burhannudinnur (Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi), Annisa Dewi Akbari (Fakultas Teknologi Industri), serta mahasiswa Chaerudin Saputra dan Hasna Choirunnisa (Fakultas Teknologi Industri) dan Clara (Fakultas Ekonomi dan Bisnis).
Dalam pemaparannya, tim menjelaskan bagaimana kuliner Indonesia dapat berperan sebagai identitas budaya sekaligus menjadi peluang usaha di luar negeri. Warung Bali yang menjadi mitra lokasi kegiatan disebut sebagai contoh diaspora Indonesia yang membangun bisnis kuliner di Kamboja. Restoran tersebut didirikan oleh Pirdaos dan Kasmin, berkembang di Phnom Penh, serta mempekerjakan staf lokal.
Tim PkM juga menyampaikan strategi pengembangan usaha kuliner, pengelolaan operasional, hingga pemasaran digital untuk menjangkau pelanggan lokal maupun wisatawan. Materi tersebut mendapat respons positif dari pemilik Warung Bali, yang menilai kegiatan ini bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan manajemen usaha, memperkuat identitas merek, serta memberi dorongan untuk memperluas bisnis ke depan.
Selain pembekalan bagi pemilik dan staf Warung Bali, PkM ini turut menyasar anggota Uni Incubator Consortium (UNIIC), konsorsium universitas di Asia Tenggara (ASEAN), India, dan Afrika yang berfokus pada pengembangan techno-entrepreneurship. Dalam forum tersebut, digelar sesi berbagi budaya kuliner antarnegara anggota UNIIC untuk memperluas wawasan kewirausahaan berbasis kearifan lokal.
Perwakilan Mindoro State University (MinSU) Filipina, Randy, menilai pertukaran budaya kuliner penting dalam pengembangan wirausaha global. “Manfaat pertukaran budaya kuliner ini sangat besar. Kita belajar bagaimana setiap negara memanfaatkan makanan sebagai identitas budaya sekaligus peluang usaha yang berkelanjutan. Ini membuka ruang kolaborasi lintas negara yang sangat potensial,” ujarnya.
Kegiatan berlangsung hangat dan interaktif, sekaligus mempererat hubungan antara tim Universitas Trisakti, diaspora Indonesia di Phnom Penh, dan anggota UNIIC. Universitas Trisakti menyatakan harapannya agar kegiatan ini terus memperkuat pemberdayaan masyarakat Indonesia di luar negeri serta mendorong peluang wirausaha berbasis budaya Indonesia.

