Persaingan usaha kuliner di Kabupaten Ende mendorong pelaku UMKM terus berinovasi agar mampu bertahan mengikuti perubahan selera pasar. Di tengah kondisi tersebut, menjaga kualitas rasa dan memanfaatkan media sosial dinilai menjadi strategi yang efektif untuk memperluas jangkauan konsumen.
Pemilik Jajanan Kuliner Ende (Jakul Ende), Kaka Evi, mengatakan usahanya mulai berkembang sejak pandemi Covid-19 pada 2020. Bisnis ini awalnya dirintis keluarga di Maumere, kemudian membuka cabang di Ende seiring meningkatnya permintaan konsumen.
Evi menilai tantangan utama usaha kuliner bukan sekadar membuat produk menjadi viral, melainkan menjaga kualitas agar pelanggan tetap loyal. Untuk mempertahankan konsistensi rasa, ia mengaku menggunakan takaran bahan yang sama dengan bantuan timbangan digital dan gelas ukur. “Kalau rasa berubah, pelanggan bisa langsung pindah. Karena itu kualitas harus dijaga dari bahan sampai proses memasaknya,” ujarnya saat dialog di Pro 2 FM Ende, Kamis, 13 Mei 2026.
Di antara produk yang ditawarkan, brownies coklat lumer disebut menjadi menu paling diminati, terutama oleh kalangan anak muda. Evi juga menyoroti bahwa tampilan makanan yang estetik ikut memengaruhi minat beli, mengingat banyak konsumen membagikan pengalaman kuliner mereka melalui media sosial.
Menurut Evi, sebagian besar pemesanan dilakukan melalui Instagram dan WhatsApp. Ia menilai media sosial membantu pertumbuhan UMKM lokal karena memudahkan promosi tanpa membutuhkan biaya besar. “Sekarang orang lebih cepat tahu produk dari IG, TikTok, dan WA. Itu sangat membantu penjualan,” katanya.
Selain brownies, Jakul Ende memproduksi puding ulang tahun, salad buah, serta dessert berbasis sistem pre-order. Skema ini dipilih untuk mengurangi risiko kerugian akibat produk tidak terjual, sekaligus menyesuaikan kemampuan modal produksi pelaku usaha kecil.
Evi juga mendorong anak muda di Ende agar berani memulai usaha mandiri dari skala kecil. Ia menyebut keberanian memulai, pelayanan yang ramah, serta kemampuan menjaga kualitas secara konsisten sebagai kunci dalam bisnis kuliner.
Ke depan, Evi berharap UMKM kuliner lokal dapat lebih banyak memanfaatkan bahan pangan daerah, sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat di Ende.

