BERITA TERKINI
Tren Viral “Unboxing Mahar” di Media Sosial Tuai Kritik karena Dinilai Melecehkan Perempuan

Tren Viral “Unboxing Mahar” di Media Sosial Tuai Kritik karena Dinilai Melecehkan Perempuan

Media sosial memiliki daya sebar yang sangat cepat. Dengan jumlah pengguna yang disebut mencapai 5,24 miliar berdasarkan data Digital 2025 dari We Are Social, sebuah konten dapat berubah menjadi tren hanya dalam hitungan jam. Namun, tidak semua tren dipandang positif. Belakangan, warganet ramai membicarakan konten bertajuk “unboxing mahar” yang viral di sejumlah platform, terutama TikTok, karena dinilai memuat humor yang melecehkan perempuan.

Tren “unboxing mahar” umumnya menampilkan video dari sudut pandang (POV) seorang pria yang seolah melakukan “unboxing” setelah membayar mahar bernilai besar. Formatnya mengadaptasi gaya video membuka paket belanja online, tetapi konteksnya dialihkan ke pernikahan dan merujuk pada organ intim perempuan. Di sejumlah video, pembuka biasanya berupa teks seperti “POV unboxing mahar 500 juta” atau nominal lain, lalu kamera diarahkan ke tubuh pasangan dengan ekspresi yang menggambarkan penilaian atau komentar atas apa yang dilihat.

Sejumlah unggahan memperlihatkan ekspresi jijik atau tindakan yang dianggap merendahkan, sementara sebagian lainnya menampilkan ekspresi kagum dan puas. Meski pengunggah kerap menyebutnya sebagai candaan, tren ini memicu kritik luas karena dianggap menormalisasi humor seksis di ruang digital.

Respons warganet pun beragam. Banyak yang mengecam dan menilai konten tersebut tidak pantas dijadikan lelucon. Sebagian komentar mempertanyakan apakah konten semacam itu dapat dikategorikan sebagai pelecehan yang dilakukan di media sosial. Di sisi lain, ada juga pengguna yang membela dengan alasan konten tersebut hanya hiburan dan tidak perlu dianggap serius. Namun, kritik yang muncul menyoroti bahwa candaan yang berulang, viral, dan menjangkau audiens besar berpotensi memperkuat perilaku seksis di ruang publik.

Isu utama yang disorot adalah unsur seksisme dalam candaan tersebut. Dalam definisi yang dikutip dari Encyclopedia Britannica, seksisme merupakan prasangka, diskriminasi, atau perlakuan tidak adil terhadap seseorang berdasarkan jenis kelamin atau gender. Dalam konteks tren ini, perempuan dinilai tidak diposisikan sebagai individu yang utuh, melainkan sebagai objek yang dinilai berdasarkan nominal mahar dan reaksi pihak lain. Warganet yang mengkritik menyebutnya sebagai bentuk objektifikasi seksual, yakni ketika tubuh atau bagian tubuh seseorang dipisahkan dari identitasnya sebagai manusia dan diperlakukan seperti mewakili angka, nilai uang, atau bahan lelucon.

Kritik juga menyoroti dampak yang lebih luas. Humor seksis semacam ini dinilai berisiko memperkuat stereotip negatif tentang perempuan dan relasi gender. Meski bagi sebagian orang terlihat remeh, candaan yang terus berulang dapat memengaruhi cara pandang penonton, termasuk generasi muda yang banyak mengonsumsi konten media sosial tanpa refleksi kritis.

Selain persoalan pelecehan, tren ini juga dianggap mengaburkan makna mahar. Mengacu pada penjelasan yang dikutip dari Detikcom, mahar atau maskawin adalah pemberian wajib berupa uang atau barang dari mempelai pria kepada mempelai perempuan saat akad nikah. Secara etimologi, istilah ini berasal dari bahasa Arab al-mahr, yang dalam sejumlah sumber klasik juga disebut shadaaq, yaitu penyerahan harta yang mencerminkan keseriusan pihak pria untuk menikahi pihak perempuan.

Dalam konteks Islam, mahar disebut bukan sekadar formalitas, melainkan hak perempuan dalam akad nikah dan menjadi bagian dari syarat sah pernikahan, serta dipahami sebagai simbol tanggung jawab dan penghormatan suami kepada istri. Namun, dalam format video “unboxing mahar”, mahar dan tubuh perempuan justru dijadikan simbol materi sekaligus objek lelucon, seolah-olah dapat “dinilai” seperti barang yang baru dibuka.

Perdebatan soal tren ini kembali menegaskan pentingnya kesadaran publik dalam mengonsumsi dan menyebarkan konten. Tren media sosial dapat berganti dengan cepat, tetapi pesan yang dibawa sebuah tren dinilai dapat meninggalkan dampak lebih panjang terhadap cara masyarakat memandang hubungan, gender, dan nilai sosial. Kritik yang mengemuka menekankan bahwa humor yang sehat tidak seharusnya memperkuat ketimpangan atau merendahkan pihak tertentu.