Tren tantangan video “Terima Kasih Thailand” kian populer di kalangan wisatawan asing yang membagikan ringkasan liburan mereka di Thailand. Dalam klip pendek, para pelancong merangkum pengalaman perjalanan—mulai dari makanan, pijat, hingga momen kurang menyenangkan seperti sakit perut dan pertemuan dengan monyet.
Menurut laporan The Thaiger pada Rabu, 25 Februari 2026, tren ini disebut telah dimulai sejak akhir tahun lalu. Banyak video direkam di bandara Thailand, lalu diunggah dengan keterangan berisi daftar aktivitas dan kejadian yang dialami selama berlibur.
Pola unggahan umumnya serupa: keterangan dimulai dengan kalimat “Terima kasih, Thailand,” kemudian diikuti jumlah orang yang bepergian, lama perjalanan, dan deretan pengalaman yang disusun sebagai rangkuman bernada lucu. Sejumlah video juga menggunakan lagu Thank You for the Music dari ABBA.
Salah satu contoh datang dari akun TikTok @martynaxx_sv, yang mengunggah video keluarga mereka seusai menghabiskan 21 hari di Thailand. Dalam keterangannya, mereka mencantumkan berbagai catatan seperti jumlah pijat, matahari terbenam, hotel yang disinggahi, perjalanan ke pulau, hingga frekuensi kunjungan ke 7-Eleven dan jumlah foto yang diambil.
Unggahan serupa dibagikan pengguna TikTok @lucasollie yang merangkum perjalanan 12 hari. Daftar yang ditulis mencakup pengalaman seperti “perut Thailand,” demam, perjalanan Grab, wisata perahu, mango sticky rice, gigitan nyamuk, sunburn, hingga “serangan monyet,” disertai catatan soal pengeluaran dan kenangan yang dibuat.
Dalam tren ini, makanan dan makanan penutup Thailand menjadi salah satu tema yang paling sering muncul, terutama Pad Thai dan mango sticky rice. Toko serba ada 7-Eleven juga kerap disebut dalam berbagai unggahan.
Meski beberapa video menyinggung pengalaman seperti makanan pedas, transportasi yang menegangkan, atau sakit perut, banyak wisatawan tetap menggambarkan perjalanan mereka sebagai pengalaman positif. Sejumlah warganet Thailand pun terlihat meninggalkan komentar yang berisi ucapan terima kasih kepada para pelancong dan ajakan untuk kembali berkunjung.
Tren video wisatawan asing sebelumnya juga sempat menarik perhatian. Pada Agustus tahun lalu, sekelompok pria asing menjadi viral di kalangan pengguna internet Thailand setelah melakukan tantangan pertukaran pakaian di Bandara Internasional Phuket. Aksi mereka turut muncul di akun TikTok seorang perempuan Thailand yang menyaksikannya dan menganggapnya lucu. Pakaian yang ditampilkan dalam video itu tampak banyak dibeli di Thailand, seperti celana pendek bermotif gajah, kemeja 7-Eleven, dan sarung bergaya Thailand.
Di sisi lain, data kunjungan wisata juga menunjukkan perkembangan pasar wisatawan Tiongkok di Thailand. Wisatawan Tiongkok disebut menyumbang sekitar seperempat dari kedatangan mingguan di negara tersebut. Untuk pekan yang berakhir pada 22 Februari—yang mencakup musim puncak perjalanan Tahun Baru Imlek—kunjungan turis China mencapai 23 persen, mendekati level sebelum pandemi dan naik dari sembilan persen pada awal 2026, berdasarkan perhitungan Bloomberg dari data Kementerian Pariwisata Thailand yang dikutip The Strait Times.
Meski kedatangan mingguan dari Tiongkok dilaporkan sedikit menurun, negara itu tetap menjadi sumber pengunjung terbesar Thailand selama tujuh minggu berturut-turut, dengan jumlah yang masih jauh di atas Malaysia yang sempat memimpin pariwisata masuk Thailand pada sebagian besar 2025.
Pemulihan ini dinilai penting bagi Thailand, mengingat pariwisata menyumbang sekitar seperlima dari output ekonomi negara tersebut. Thailand sebelumnya berada di jalur untuk menerima 40 juta pengunjung per tahun sebelum pandemi COVID-19, namun belum sepenuhnya kembali ke momentum tersebut, salah satunya karena pemulihan perjalanan luar negeri dari Tiongkok yang lebih lambat.
Laporan itu juga menyebutkan penculikan seorang aktor Tiongkok di Thailand pada awal 2025 sempat membuat sebagian calon wisatawan ragu berkunjung. Sementara itu, ketegangan geopolitik terkini antara Beijing dan Tokyo disebut ikut membentuk pola perjalanan ke Thailand.

