Media sosial TikTok tengah diramaikan tren “Weekend Lover” yang menampilkan sejumlah perempuan dari kalangan Gen Z mengakui secara terbuka bahwa mereka menjadi “cinta akhir pekan” bagi seorang pria.
Istilah “Weekend Lover” merujuk pada sosok yang hanya dicari atau ditemui saat Sabtu dan Minggu, tetapi nyaris tidak mendapat perhatian di hari-hari lainnya. Kemunculan tren ini memicu respons beragam, termasuk penilaian bahwa fenomena tersebut menyedihkan dan dapat menjatuhkan harga diri perempuan.
Tren ini juga dikaitkan dengan semakin lazimnya fenomena situationship atau relasi yang tidak jelas statusnya di kalangan Gen Z. Seorang warganet, misalnya, mengaku pria yang rutin menemuinya setiap akhir pekan akan memblokir nomor teleponnya pada hari kerja.
Christie Tcharkhoutian, mak comblang senior di Three Day Rule, Los Angeles, yang dikutip dari Women’s Health Magazine, menilai fenomena seperti ini dapat terjadi karena banyaknya aplikasi kencan online yang membuat orang kesulitan berkomitmen pada satu pasangan.
“Aplikasi kencan online ini menciptakan paradoks bahwa kita memiliki begitu banyak pilihan dan sulit berkomitmen pada orang di depan kita karena mereka pergi ke kamar mandi dan bisa langsung menggeser layar,” kata Christie.
Menurutnya, situasi ini turut diperparah oleh media sosial, yang membuat sebagian perempuan berani mengunggah pengalaman saat dijadikan backburner atau cadangan dan menganggapnya sebagai hal yang lumrah. Dalam konteks ini, hubungan kasual dipandang sama-sama menguntungkan, seolah tidak ada perbedaan dampak emosional antara laki-laki dan perempuan, sehingga tren “Weekend Lover” dianggap biasa oleh sebagian orang.

