BERITA TERKINI
Tren TikTok “My Favorite Person” Bisa Jadi Cara Refleksi Diri untuk Meningkatkan Percaya Diri

Tren TikTok “My Favorite Person” Bisa Jadi Cara Refleksi Diri untuk Meningkatkan Percaya Diri

Refleksi diri umumnya dilakukan lewat kebiasaan menulis jurnal. Namun, praktik ini juga bisa dioptimalkan dengan cara yang tidak biasa, salah satunya melalui tren di media sosial.

Di TikTok, tren bertajuk “My Favorite Person” tengah ramai. Tren ini pada dasarnya mengajak orang membagikan video tentang sosok yang mereka kasihi—mulai dari anak, pasangan, hingga hewan peliharaan—seraya menyebutkan kualitas dan momen sehari-hari yang membuat sosok tersebut terasa istimewa.

Psikoterapis Dipesh Patel, MBA, MSW, LCSW/LICSW, menyebut tren tersebut mengundang orang untuk mengungkapkan hal-hal yang biasanya tidak disampaikan dalam interaksi harian. Ia menilai praktik ini sebagai bentuk kesadaran relasional, karena seseorang mengekspresikan perhatian dan penilaian positif secara lebih terbuka.

Pandangan serupa disampaikan terapis Chloë Bean, LMFT. Menurutnya, tren itu mencerminkan apresiasi yang mendalam dan penuh kelembutan terhadap figur penting dalam hidup seseorang. Bean menjelaskan, inti tren ini adalah memerhatikan apa yang disukai oleh “orang favorit”, bagaimana mereka berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan sekitar, serta hal-hal yang membentuk mereka menjadi diri sendiri.

Bean menambahkan, praktik rasa syukur yang ditujukan kepada orang lain secara langsung dapat menciptakan koneksi emosional yang kuat. Sosok yang disorot dalam video berpotensi merasa lebih “dilihat” dan dihargai keunikannya.

Meski lazimnya berfokus pada orang lain, tren “My Favorite Person” juga dapat diterapkan kepada diri sendiri. Bean menilai pendekatan ini membantu seseorang menghargai diri apa adanya, bukan semata berdasarkan pencapaian atau apa yang dikerjakan.

Dengan menempatkan diri sebagai “orang favorit”, welas asih terhadap diri dapat meningkat, sementara suara kritik internal perlahan mereda. Dalam prosesnya, otak juga dilatih untuk memikirkan hal-hal baru: alih-alih terus berkutat pada sisi negatif, seseorang mulai mengamati dirinya dari sudut pandang yang berbeda.

Perubahan cara memandang diri ini disebut turut membantu menurunkan hormon stres karena tubuh merasa lebih aman. Dari pemahaman diri yang lebih dalam, fondasi untuk menumbuhkan rasa percaya diri yang lebih kokoh pun dapat terbentuk.