Tren baru di TikTok yang terinspirasi dari drama Korea S Line belakangan ramai diperbincangkan. Tren ini menampilkan garis merah di atas kepala pengguna melalui filter digital, yang dikaitkan dengan jumlah pasangan yang pernah berhubungan seksual.
Dalam drama S Line, garis merah digambarkan sebagai elemen fantasi: karakter utama dapat melihat garis tak kasat mata yang menghubungkan dua orang yang pernah menjalin hubungan intim. Unsur tersebut menjadi bagian dari alur misteri untuk mengungkap relasi tersembunyi antarkarakter.
Namun ketika konsep itu diadopsi ke media sosial, maknanya bergeser. Di TikTok, garis merah kerap dipakai sebagai bentuk pengungkapan pengalaman seksual secara terbuka. Sejumlah video viral memperlihatkan pengguna memamerkan jumlah garis merah sambil mengikuti audio populer, sehingga tren ini tidak lagi sekadar merujuk pada narasi fiksi, melainkan menjadi representasi pengalaman pribadi—sering disandingkan dengan istilah “body count” yang populer di kalangan Gen Z.
Respons warganet terhadap tren ini beragam. Sebagian menganggapnya sebagai bentuk ekspresi diri atau sekadar konten hiburan. Namun, tidak sedikit pula yang menilai tren tersebut melewati batas karena menyentuh ranah privasi.
Kritik terhadap tren S Line di TikTok terutama muncul karena dianggap mendorong orang mengumbar informasi personal terkait kehidupan seksual. Garis merah yang ditampilkan sebagai indikator jumlah pasangan dinilai mereduksi privasi menjadi konsumsi publik, sekaligus mengaburkan batas antara ekspresi dan eksploitasi.
Di sisi lain, kekhawatiran juga datang dari aspek sosial dan budaya. Sebagian pengguna menilai tren ini berpotensi memunculkan tekanan terselubung, terutama pada remaja, untuk ikut mengekspos informasi pribadi demi validasi atau pengakuan di ruang digital. Dalam konteks ini, media sosial kembali dipandang sebagai panggung yang membuat batas antara pencitraan dan kejujuran pribadi menjadi kabur.
Selain itu, tren semacam ini dinilai berisiko menimbulkan konsekuensi emosional. Ketika pengalaman seksual menjadi bahan konten viral, penghargaan terhadap kerahasiaan dan privasi hubungan dapat bergeser. Dampaknya dikhawatirkan memicu rasa malu, tekanan mental, atau mengganggu relasi sosial yang semestinya dibangun atas dasar saling menghargai masa lalu dan menjaga privasi masing-masing pihak.
Secara lebih luas, tren S Line menunjukkan bagaimana budaya populer dapat membentuk cara generasi muda mengekspresikan diri di ranah digital. Meski berangkat dari fiksi, kemunculannya memicu perbincangan tentang batas etika, nilai privasi, serta perubahan sikap terhadap hal-hal yang sebelumnya dianggap tabu.

