Tren riasan bertajuk “Bebot” kembali ramai di TikTok. Ciri-cirinya mudah dikenali: alis tipis melengkung, sapuan eyeshadow lembut, kulit tampak mulus dengan efek perunggu, serta bibir berkilau. Gaya yang lekat dengan estetika awal 2000-an ini kembali mendominasi lini masa, menghadirkan nuansa retro yang kuat dengan sentuhan budaya Filipina.
Bebot berakar dari Filipina dan ikut populer berkat lagu “Bebot” dari Black Eyed Peas. Lagu tersebut pertama kali hadir di album Monkey Business pada Juni 2005, lalu dirilis sebagai single di Filipina, kawasan Asia, termasuk Australia pada 4 Agustus 2006. Saat itu, lagu ini mendapat sambutan hangat di kancah musik lokal dan dikenal membawa semangat yang kental dengan identitas Filipina.
Video musik “Bebot” turut menonjolkan citra kecantikan perempuan Filipina pada masanya. Visual yang muncul antara lain alis tipis, bibir berkilau, dan kulit sawo matang kecokelatan, dipadukan dengan busana Y2K. Lebih dari sekadar elemen estetika, tampilan tersebut menjadi pernyataan kebanggaan atas definisi kecantikan Filipina kala itu. Popularitasnya pun meluas, hingga istilah “Bebot” berkembang melampaui judul lagu dan menjadi simbol budaya.
Di ranah kecantikan, kreator konten Belle Rodolfo menjelaskan kepada Lifestyle Asia mengenai cara mendapatkan tampilan bebot yang mudah dikenali dan disebutnya “akurat secara historis”. Menurutnya, alis tipis merupakan elemen wajib. Pada bagian mata, ia menggambarkan “smokey eye yang terkendali” dengan pilihan eyeshadow abu-abu, biru keperakan, atau ungu, ditambah eyeliner yang dioleskan. Pada era itu, tulang alis juga kerap dibuat lebih menonjol untuk mempertegas bentuk alis yang tipis.
Untuk dasar riasan, foundation bubuk berwarna cerah disebut umum digunakan, seiring pilihan warna yang belum terlalu beragam. Area bawah mata pun diberi sentuhan lebih terang. Dalam pembahasan kontur dan bronzer, Belle menyebut teknik pada masa itu kerap mengambil peran yang biasanya diisi perona pipi. Adapun perona pipi dibuat natural dengan nuansa peach lembut.
Bagian bibir menjadi penutup yang khas: digaris luar menggunakan eyeliner gelap, diisi warna nude, lalu diberi shimmer atau lip gloss untuk efek mengilap. Tampilan ini lazim dipadukan dengan gaya rambut panjang dan lurus—dipengaruhi tren rebonding dan relaxing—dengan poni samping atau belahan tengah yang mengembang.
Kembalinya bebot di TikTok tidak hanya dibaca sebagai nostalgia tren Y2K. Tren ini juga menegaskan kembali gagasan awal yang diangkat oleh lagu “Bebot”, yakni menonjolkan kecantikan perempuan Filipina. Sebagian orang mungkin mengaitkannya dengan estetika awal 2000-an yang identik dengan glamor mencolok, rhinestones, dan logomania. Namun, pengaruh bebot disebut berkembang menjadi sesuatu yang khas dan sulit dipisahkan dari identitas Filipina.
Di TikTok, tagar dan pencarian “Bebot” memunculkan banyak video perempuan Filipina yang merekonstruksi tampilan ikonik tersebut. Di saat bersamaan, tren ini terlihat menjadi ruang untuk menonjolkan gaya yang dianggap lebih “murni” Filipina, alih-alih mengikuti tren kecantikan negara lain. Tren ini juga menempatkan apresiasi pada kulit morena atau kecokelatan sebagai bagian tak terpisahkan dari tampilan bebot, sekaligus mengingatkan pada keragaman dan warisan kecantikan suatu negara.
Seiring viralnya di media sosial, bebot turut melintasi batas negara. Kreator dari berbagai tempat ikut mencoba membuat versi mereka sendiri, sekaligus mengagumi keunikan gaya glamor Filipina era 2000-an yang kini kembali mendapat panggung.

