BERITA TERKINI
Tren Karikatur AI Viral, Pakar Ingatkan Risiko Kebocoran Data dan Penipuan Identitas

Tren Karikatur AI Viral, Pakar Ingatkan Risiko Kebocoran Data dan Penipuan Identitas

Tren membuat karikatur dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) tengah ramai di media sosial. Pengguna biasanya mengunggah foto diri, lalu meminta chatbot AI mengubahnya menjadi gambar karikatur yang tampak lucu dan penuh warna. Namun, di balik tren tersebut, pakar keamanan siber mengingatkan adanya potensi risiko serius terhadap keamanan data pribadi.

Sejumlah pakar menilai, partisipasi dalam tren ini dapat mempermudah pekerjaan pelaku kejahatan siber. Foto yang diunggah sering kali memuat detail yang cukup jelas, termasuk elemen yang terkait dengan identitas seseorang maupun perusahaan, sehingga menjadi representasi visual yang akurat dan berpotensi dimanfaatkan untuk tujuan penipuan.

Bob Long dari perusahaan Daon menyatakan kecurigaannya bahwa tren semacam ini bisa saja sengaja dimulai untuk mengumpulkan data biometrik dan profil target secara massal, tanpa perlu upaya rumit seperti yang biasanya dilakukan pelaku kejahatan.

Risiko lainnya berkaitan dengan cara sistem AI memproses gambar. Ketika foto diunggah untuk dibuat karikatur, sistem dapat mengekstraksi berbagai informasi, mulai dari ekspresi emosi, lingkungan sekitar, hingga petunjuk lokasi yang mungkin tidak disadari pengguna.

Data yang diproses tersebut dapat disimpan dalam periode tertentu dan kerap digunakan untuk melatih sistem AI. Jika terjadi kebocoran data pada perusahaan penyedia layanan AI, foto dan informasi terkait berpotensi jatuh ke pihak yang tidak bertanggung jawab.

Pakar juga menyoroti potensi penyalahgunaan foto beresolusi tinggi. Materi semacam itu dapat dipakai untuk membuat akun media sosial palsu atau dimanfaatkan dalam teknologi deepfake. Charlotte Wilson dari Check Point memperingatkan bahwa foto selfie dapat membantu penipu bergeser dari modus penipuan umum menjadi penipuan berbasis penyamaran yang jauh lebih meyakinkan.

Dengan materi visual yang memadai, pelaku dapat melakukan impersonasi atau peniruan identitas untuk menarget orang-orang terdekat korban, dengan peluang keberhasilan yang lebih tinggi.

Bagi pengguna yang tetap ingin mengikuti tren karikatur AI, pakar menyarankan untuk membatasi informasi yang dibagikan. Salah satu langkah yang disarankan adalah memotong (crop) foto secara ketat agar latar belakang yang berpotensi mengungkap lokasi atau identitas, seperti lencana kerja, tidak ikut terlihat.