Tren membuat karikatur menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang ramai dibagikan di media sosial dinilai tidak berhenti pada hasil gambar semata. Di balik proses pembuatannya, pengguna berpotensi menyerahkan berbagai data yang dapat disalahgunakan, termasuk untuk penipuan berbasis rekayasa sosial.
Bergantung pada kebijakan privasi masing-masing platform, sejumlah informasi bisa ikut tersimpan saat pengguna membuat karikatur. Data tersebut dapat mencakup foto asli yang diunggah, instruksi teks yang ditulis pengguna, riwayat penggunaan, alamat IP, informasi perangkat, hingga pola interaksi.
Sejumlah data itu dapat disimpan untuk kebutuhan operasional layanan, peningkatan performa, atau pelatihan model AI. Dengan demikian, konten yang diunggah tidak otomatis hilang setelah karikatur selesai dibuat.
Managing Director Asia Pasifik di Kaspersky, Adrian Hia, memperingatkan bahwa tren viral ini berisiko menjadi pintu masuk bagi pelaku kejahatan siber. “Tren viral pembuatan karikatur kehidupan kita ini mungkin tampak seperti hiburan yang tidak berbahaya, tetapi sebenarnya merupakan informasi sukarela bagi penjahat siber,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (23/2/2026).
Hia menilai setiap detail yang diberikan pengguna dapat dimanfaatkan untuk menyusun serangan yang lebih meyakinkan. “Setiap kali pengguna di Asia Pasifik memberikan detail tentang diri mereka kepada AI hanya untuk melihat ilustrasi yang cerdas, mereka menyerahkan cetak biru untuk serangan rekayasa sosial yang sempurna,” katanya.
Menurut Hia, kondisi menjadi lebih berisiko karena adopsi AI yang tinggi tidak selalu diiringi literasi digital yang merata. Ia menekankan bahwa informasi yang dibagikan pengguna dapat memberi penipu konteks untuk mempersonalisasi serangan. “Pada dasarnya kita memberi penipu ‘konteks’ yang mereka butuhkan untuk mengubah email phishing generik menjadi penipuan yang sangat personal dan meyakinkan sehingga memungkinkan untuk melewati pertahanan pengguna yang berhati-hati sekalipun,” tegasnya.

