BERITA TERKINI
Tren Gamis Lebaran "Bini Orang" Viral di TikTok, Ini Asal-usul Nama dan Detail Desainnya

Tren Gamis Lebaran "Bini Orang" Viral di TikTok, Ini Asal-usul Nama dan Detail Desainnya

Jagat media sosial kembali diramaikan tren busana Lebaran yang menarik perhatian, kali ini lewat gamis yang disebut “bini orang”. Setelah sebelumnya tren rompi lepas sempat mencuri perhatian, model gamis dengan penamaan tak biasa itu kini viral dan memicu rasa penasaran warganet.

Tren tersebut mencuat setelah akun TikTok @sudartiindraaa mengunggah video yang memperlihatkan antusiasme pembeli terhadap gamis yang disebut “bini orang”. Dalam keterangan videonya, akun itu menulis, “Baju Lebaran 2026 Lagi ngetrend Paling laris. Bini orang paling laris 2026.” Video itu kemudian menyebar luas dan telah ditonton lebih dari 2,6 juta kali.

Di kolom komentar, sejumlah pengguna mempertanyakan makna istilah tersebut. Ada yang menulis, “Maksudnya bini orang apa😭,” sementara komentar lain menanggapi dengan nada bercanda dan heran atas nama gamis yang dianggap nyeleneh.

Untuk menelusuri asal-usulnya, pihak toko Indra Fashion yang berlokasi di Pasar Johar, Kota Semarang, Jawa Tengah, menjelaskan bahwa “bini orang” merupakan strategi penamaan agar produk lebih mudah diingat. Elgi Artha dari Indra Fashion menyebut nama asli busana itu adalah Gamis Inara, namun kemudian diubah mengikuti momentum tren.

“Bini orang asli namanya gamis inara, tapi karena sedang trending dan lebih menarik jadinya gamis model bini orang,” ujar Elgi.

Menurut Elgi, pemilihan nama yang unik tersebut dinilai efektif menarik perhatian pembeli dan berdampak pada penjualan di tokonya. Gamis ini dijual dengan kisaran harga Rp 225.000 hingga Rp 285.000.

Dari sisi desain, gamis “bini orang” disebut berbeda dari model gamis yang umum. Busana ini menonjolkan layer lengkungan yang melebar di bagian bawah, serta aksen susun pada bagian lengan. Elgi juga menyebut pilihan warnanya cenderung lembut bernuansa pastel, seperti pink muda, kuning butter, dan biru langit.

Viralnya tren ini menunjukkan bagaimana penamaan produk dan tampilan visual di media sosial dapat memengaruhi perhatian publik, sekaligus membentuk tren busana musiman menjelang Lebaran.