BERITA TERKINI
Tren Gamis Lebaran 2026 Bergeser: Dari “Gamis Bini Orang” hingga “Kebanggaan Mertua”

Tren Gamis Lebaran 2026 Bergeser: Dari “Gamis Bini Orang” hingga “Kebanggaan Mertua”

Pasar Tanah Abang kembali dipadati pembeli menjelang Ramadhan. Sejak pagi, pusat grosir yang kerap menjadi rujukan busana Lebaran ini ramai oleh warga yang mencari stok maupun pakaian terbaik untuk Hari Raya.

Menjelang Lebaran 2026, selera pasar terlihat berubah. Jika pada musim sebelumnya gamis dengan detail ramai dan brokat mendominasi, kini tren bergerak ke arah yang lebih tenang. Selain model yang sempat viral dengan sebutan “gamis bini orang”, pedagang mulai memperkenalkan istilah baru yang tak kalah menarik perhatian: “gamis kebanggaan mertua”.

Istilah “gamis bini orang” muncul dari percakapan warganet di media sosial, terutama TikTok dan Instagram. Video OOTD dengan gaya anggun dan minimalis memicu komentar seperti “vibes-nya istri orang banget”, hingga label tersebut melekat pada model tertentu.

Secara umum, “gamis bini orang” merujuk pada gamis berpotongan sederhana yang jatuh rapi, dengan warna lembut seperti sage green, mocca, dusty pink, dan broken white. Desainnya menonjolkan siluet bersih tanpa detail berlebihan—minim payet atau bordir—namun tetap memberi kesan dewasa dan elegan. Di pusat grosir, harganya relatif terjangkau, berkisar ratusan ribu rupiah, sehingga cepat diburu.

Di tengah popularitas itu, muncul istilah “gamis kebanggaan mertua” sebagai pesaing. Jika model “bini orang” identik dengan kesan effortless dan feminin, “kebanggaan mertua” menonjolkan tampilan yang lebih rapi, terstruktur, dan terlihat “proper”.

Gamis “kebanggaan mertua” umumnya memiliki potongan lebih tegas. Struktur bahannya cenderung lebih tebal atau tampak premium sehingga membentuk siluet yang kokoh dan anggun. Palet warnanya tetap berada di spektrum lembut seperti cream, taupe, olive, atau pastel netral. Detail kecil—misalnya aksen lipit di lengan, kancing tersembunyi, atau bordir tipis di bagian dada—menjadi pembeda yang tidak mencolok, tetapi memberi sentuhan eksklusif.

Model ini disebut “kebanggaan mertua” karena dinilai cocok untuk momen silaturahmi keluarga besar. Kesan yang dibangun adalah sopan, pantas, dan berkelas—penampilan yang dianggap dapat membuat orang tua merasa bangga.

Pergeseran tren ini juga memperlihatkan kecenderungan konsumen yang mulai meninggalkan gaya terlalu ramai. Setelah beberapa tahun busana Lebaran dipenuhi brokat tebal, payet besar, dan warna mencolok, sebagian pembeli kini memilih desain yang lebih minimalis. Dalam buku The End of Fashion karya Teri Agins, disebutkan bahwa mode bergerak dalam siklus dari berlebihan menuju kesederhanaan, lalu kembali lagi. Minimalisme kerap muncul sebagai respons terhadap kejenuhan visual.

Sejalan dengan itu, Malcolm Barnard dalam Fashion as Communication menekankan bahwa busana merupakan medium komunikasi sosial. Warna lembut dan potongan sederhana dapat menyampaikan pesan kedewasaan, stabilitas, dan ketenangan. Dalam konteks Lebaran, pesan tersebut menjadi relevan karena Hari Raya tidak hanya soal tampil modis, tetapi juga momentum mempererat hubungan keluarga.

Media sosial turut berperan besar dalam melambungkan kedua istilah tersebut. Satu video yang viral dapat mengubah model biasa menjadi buruan dalam waktu singkat. Pedagang di Tanah Abang pun memanfaatkan momentum dengan memberi label yang mudah diingat, sebagai strategi diferensiasi agar pembeli merasa mendapatkan sesuatu yang sedang “hype”, bukan sekadar gamis biasa.

Di balik tren dan penamaan yang menarik, pertimbangan utama pembeli tetap kenyamanan. Lebaran identik dengan aktivitas panjang, mulai dari shalat Id, silaturahmi, hingga sesi foto keluarga. Karena itu, bahan yang adem, tidak mudah kusut, serta potongan yang leluasa menjadi faktor penting. Dari sisi etika berpakaian Muslimah, busana yang sopan dan nyaman juga selaras dengan prinsip kesederhanaan.

Tanah Abang pun masih dipandang sebagai barometer tren busana Lebaran, meski belanja online semakin mudah. Banyak pembeli tetap datang langsung untuk memastikan kualitas bahan dan melihat jatuh kain secara nyata. Harga yang kompetitif juga menjadi daya tarik, karena dengan anggaran ratusan ribu rupiah, pembeli bisa memperoleh gamis yang terlihat eksklusif.

Tren Lebaran 2026 memperlihatkan pesan yang menguat: tampil elegan tidak harus rumit. Baik memilih gaya lembut dan effortless ala “gamis bini orang” maupun model terstruktur yang lebih proper seperti “kebanggaan mertua”, keduanya sama-sama menawarkan tampilan anggun tanpa berlebihan.