Food truck atau truk makanan merupakan kendaraan yang dimodifikasi untuk memasak, menyiapkan, hingga menyajikan makanan. Dalam beberapa waktu terakhir, fenomena food truck kembali merebak di berbagai kota besar di Indonesia, tampil sebagai “dapur berjalan” yang menawarkan ragam kuliner langsung dari pinggir jalan.
Tren ini tidak hanya menarik minat pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), tetapi juga mulai diikuti merek-merek besar di industri makanan dan minuman. Salah satu unggahan yang viral di media sosial memperlihatkan deretan food truck dari berbagai brand memenuhi area publik dan disambut antusias pengunjung. “Terpantau food truck makin merajalela! Dulu yang beralih jadi food truck cuma pedagang UMKM, sekarang brand besar pun ikut turun gunung untuk bersaing dengan cara unik ini. Menurutmu kenapa yaah?” tulis akun @jak********ers pada Sabtu (7/6/2025).
Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai, naiknya kembali tren food truck terjadi karena model ini menawarkan fleksibilitas operasional yang tinggi. Menurutnya, konsep tersebut cocok bagi pelaku usaha pemula maupun masyarakat urban yang membutuhkan solusi makan praktis.
“Food truck menawarkan operasional yang fleksibel, biaya sewa tempat yang terjangkau, bahkan kadang tanpa sewa sama sekali,” kata Bhima saat diwawancarai, Selasa (10/6/2025).
Bhima menjelaskan, konsep food truck relevan di kawasan perkantoran, mengingat karyawan umumnya memiliki waktu makan dan istirahat yang terbatas. Dengan sistem pemesanan dan pelayanan yang cepat, food truck dinilai membantu konsumen mengefisienkan waktu tanpa mengurangi pilihan makanan.
Dari sisi harga, makanan dan minuman yang dijual melalui food truck juga cenderung lebih terjangkau. Hal ini berkaitan dengan biaya operasional yang lebih rendah, termasuk penghematan dari sewa tempat. “Inilah yang membuat harga jual makanan dan minuman di food truck bisa lebih kompetitif dan sesuai dengan daya beli kelas menengah di perkotaan,” ujarnya.
Terkait dampaknya terhadap bisnis ritel, Bhima menyebut sewa toko berpotensi berkurang khususnya untuk usaha makanan dan minuman. Namun, ia menilai jenis usaha lain tetap membutuhkan toko fisik sehingga dampaknya tidak akan terlalu besar. “Sewa toko kemudian akan beralih untuk jenis usaha lain seperti aksesoris, kosmetik, atau perawatan tubuh,” jelasnya.
Adapun bagi perusahaan waralaba atau brand makanan siap saji yang ingin menyediakan layanan food truck, Bhima menilai langkah itu bisa menjadi tantangan tersendiri. “Kalau brand makanan siap saji existing mau ke food truck rasanya cukup menantang ya, meski brand-nya internasional, ada tantangan dari persepsi konsumen bahwa food truck adalah alternatif makanan dengan gaya hidup baru,” kata Bhima.
Ia juga menyebut, sebelumnya sudah ada beberapa restoran cepat saji yang menerapkan strategi menggunakan food truck di Indonesia, tetapi strategi tersebut dinilai kurang mendapat sambutan.
Bhima menambahkan, peralihan dari toko ke food truck sejalan dengan melemahnya daya beli masyarakat kelas menengah. “Peralihan ke food truck sejalan dengan melemahnya daya beli kelas menengah. Akhirnya alternatif makanan dengan harga jual yang terjangkau lebih diminati,” ujarnya.
Di sisi lain, menjamurnya food truck diperkirakan akan memperketat persaingan dengan restoran. Salah satu penyebabnya, varian makanan yang ditawarkan food truck cenderung modern dan mengikuti selera generasi Z serta milenial. Selain itu, promosi melalui media sosial, termasuk menggandeng influencer, dinilai dapat semakin menarik minat konsumen baru.
Dalam beberapa tahun ke depan, Bhima memperkirakan food truck tidak hanya muncul di dekat perkantoran atau saat kegiatan tertentu, tetapi juga berpotensi tumbuh di kota-kota dengan tingkat perkembangan ekonomi dan infrastruktur yang lebih rendah. “Dalam 5 tahun kedepan food truck bisa jadi opsi kuliner yang bertemu dengan gaya hidup urban,” ujarnya.

