Awal tahun ini, pengadilan di Jerman memutuskan bahwa produk berlabel “Dubai chocolate” harus benar-benar berasal dari Dubai agar tidak menyesatkan konsumen. Putusan tersebut muncul di tengah meningkatnya minat terhadap varian cokelat yang belakangan kian populer.
Antusiasme pasar yang tinggi turut memunculkan berbagai produk tiruan. Bulan lalu, misalnya, produk palsu yang meniru batangan kunafa buatan Le Damas, produsen manisan Arab, ditemukan di sejumlah supermarket di Inggris. Produk itu kemudian ditarik oleh Badan Standar Makanan Inggris (FSA).
Sarah Hamouda, salah satu pendiri FIX Dessert Chocolatier, mengatakan pihaknya khawatir ada pihak yang mencoba mengeksploitasi merek mereka untuk menipu konsumen. Meski demikian, ia juga mengaku senang melihat produsen di berbagai negara mengolah tren tersebut secara kreatif.
Di sisi lain, tren ini tidak lepas dari konsekuensi pada rantai pasok. Financial Times pada April melaporkan harga pistachio naik hingga 34% dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan itu terjadi meski data Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) menunjukkan produksi pistachio global saat itu meningkat 7%.
Namun Conspiracy Chocolate menyatakan dampaknya tidak terlalu signifikan bagi mereka. “Harga kacangnya tidak terlalu naik. Yang naik harga pasta pistachio, karena kebanyakan orang yang meniru Dubai Chocolate membeli pasta dalam bentuk jadi. Sedangkan kami membuatnya sendiri,” kata Herren.
Pabrik kecil tersebut menargetkan produksi sekitar 2.000 kue bulan selama musim perayaan. Setiap kotak berisi empat kue bulan dan dijual seharga USD 69 atau sekitar Rp 1,1 juta hingga akhir September.

