Media sosial kembali diramaikan tren diet ekstrem. Kali ini, fenomena yang disebut plastic eating atau tren “makan plastik” viral di TikTok China dan menuai kritik dari warganet.
Dalam sejumlah video yang beredar, terlihat anak-anak muda menutup mulut dengan plastik tipis. Makanan kemudian diletakkan di atas plastik tersebut, dikunyah sebentar tanpa benar-benar masuk ke mulut, lalu plastik beserta makanan itu dimuntahkan kembali.
Para pelaku tren ini mengklaim cara tersebut bertujuan “menipu” otak agar merasa sudah makan. Dengan mensimulasikan aktivitas makan, mereka berharap rasa lapar berkurang, kenaikan berat badan dapat dicegah, dan risiko obesitas bisa dihindari.
Namun hingga kini, belum ada bukti ilmiah yang mendukung efektivitas metode tersebut. Sebaliknya, tren ini justru dikhawatirkan memicu masalah kesehatan, termasuk gangguan makan.
Video-video terkait tren ini telah mengumpulkan ribuan likes, komentar, dan dibagikan ulang. Meski demikian, respons yang muncul disebut didominasi kritik. Sejumlah warganet mengecam tren tersebut dan menilai caranya tidak masuk akal.
Salah satu komentar menyebut, “Konyol. Jika takut obesitas, atur pola makan dan nutrisi, imbangi dengan olahraga rutin, serta disiplin. Cara seperti ini hanya terdengar aneh.” Komentar lain meminta tren itu tidak disebarluaskan karena dikhawatirkan dapat ditiru remaja dan perempuan muda, bahkan disebut sebagai “versi lain dari bulimia.”
Warganet lain menilai kemunculan tren tersebut sebagai cerminan tekanan sosial yang berlebihan. Mereka menganggap tindakan menutup mulut dengan plastik demi merasa “kenyang” bukan sekadar tren diet, melainkan tanda bahaya ketika ketakutan terhadap kegemukan mengalahkan keselamatan dasar.
Para ahli kesehatan selama ini mengingatkan bahwa metode diet ekstrem, terutama yang melibatkan pembatasan makan secara tidak sehat, dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik maupun mental. Penurunan berat badan secara sehat tetap membutuhkan pendekatan seimbang, seperti pola makan bergizi, kontrol porsi, aktivitas fisik teratur, dan istirahat yang cukup, bukan cara-cara berisiko yang belum terbukti secara ilmiah.

