Kebiasaan mengurangi konsumsi gula belakangan banyak dibahas sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Tren ini dikenal dengan istilah cutting sugar, yang mendorong masyarakat untuk lebih memperhatikan jumlah gula yang dikonsumsi, terutama yang berasal dari minuman manis, makanan kemasan, dan camilan sehari-hari.
Cutting sugar tidak berarti menghilangkan seluruh makanan manis dari menu. Fokus utamanya adalah mengenali sumber gula tambahan dan mengatur konsumsinya agar pola makan tetap beragam serta seimbang. Perubahan kecil dalam rutinitas makan dan minum disebut dapat menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan yang lebih baik.
Minuman seperti teh manis, kopi dengan tambahan sirup, minuman bersoda, hingga minuman kemasan kerap menjadi sumber gula tambahan yang tidak selalu disadari. Karena itu, upaya mengurangi gula sering dimulai dari kebiasaan minum sehari-hari.
Dalam konteks ini, gula tambahan merujuk pada gula yang dimasukkan ke dalam makanan atau minuman selama proses pembuatan maupun penyajian. Gula tambahan berbeda dari gula alami yang terdapat dalam buah utuh dan susu tanpa pemanis tambahan. Buah utuh, misalnya, juga mengandung serat serta berbagai zat gizi yang bermanfaat bagi tubuh.
Mengurangi gula tambahan dapat membantu menjaga pola konsumsi agar tidak berlebihan. Namun penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan tubuh, dan tidak harus dilakukan dengan menghindari seluruh makanan yang mengandung karbohidrat.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengurangi minuman manis secara bertahap. Takaran gula pada minuman buatan sendiri bisa dikurangi sedikit demi sedikit. Jika biasanya menambahkan beberapa sendok gula ke dalam teh, jumlahnya dapat diturunkan secara perlahan sesuai selera.
Air putih juga dapat dijadikan pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan harian. Bagi yang menginginkan variasi rasa, air bisa disajikan dengan potongan buah segar tanpa perlu menambahkan banyak pemanis.