Berkendara selama berjam-jam dapat memicu kelelahan pada pengemudi dan menurunkan konsentrasi. Kondisi ini berisiko mengganggu kemampuan mengambil keputusan, terutama ketika perjalanan dilakukan tanpa jeda istirahat yang memadai.
Menurut laporan Channel News Asia pada Selasa, rasa lelah bisa muncul dalam satu hingga dua jam berkendara tanpa henti. Hal itu terjadi karena tubuh terus dituntut bereaksi cepat dan menggunakan kemampuan kognitif secara berkelanjutan, sehingga memicu keletihan.
Konsultan asosiasi di Departemen Kedokteran Kerja Rumah Sakit Umum Sengkang, Licia Tan, menyebut kelelahan dapat terasa lebih berat pada hari yang sangat panas. Ia mengatakan cuaca ekstrem, seperti suhu lingkungan yang tinggi, menunjukkan hubungan positif dengan gejala kelelahan serta telah dikaitkan dengan pengambilan keputusan yang lebih buruk dan kecelakaan lalu lintas.
Tan juga menjelaskan bahwa kelelahan bukan hanya muncul karena aktivitas mengemudi yang intens, tetapi juga karena kondisi pasif ketika pengemudi tidak banyak bergerak dalam waktu lama. Situasi ini dapat terjadi, misalnya, saat mengemudi di jalan tol dengan bantuan cruise control.
Kebiasaan duduk berjam-jam di balik kemudi, disertai pola makan dan istirahat yang tidak teratur, serta terbatasnya akses terhadap aktivitas fisik, disebut dapat berdampak pada kesehatan. “Ini semua meningkatkan risiko penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, dan obesitas,” kata Tan.
Untuk mengurangi dampak tersebut, Tan menyarankan pengemudi mempertahankan pola makan seimbang dan menjaga waktu makan tetap teratur ketika harus berkendara lama. Ia juga menganjurkan membawa camilan bergizi, seperti buah-buahan dan kacang-kacangan tanpa garam, terutama saat akses makanan sulit.
Asupan cairan juga dinilai penting. Tan menyarankan pengemudi menyimpan botol air dingin di dalam kendaraan agar tetap terhidrasi. Dehidrasi, menurutnya, dapat menyebabkan kelelahan, sakit kepala, dan penurunan konsentrasi.
Selain itu, setelah berkendara lebih dari satu jam, pengemudi disarankan beristirahat selama lima hingga 10 menit setiap jam, jika memungkinkan. Waktu jeda itu dapat dimanfaatkan untuk peregangan, menghitung langkah, atau melakukan gerakan ringan guna membantu melancarkan sirkulasi darah.
Tan mengingatkan agar pengemudi menghindari mengemudi lebih dari 12 jam karena dapat meningkatkan risiko kesalahan akibat kelelahan serta bahaya kardiovaskular jangka panjang.
Jika belum menemukan tempat beristirahat, ia menyarankan latihan sederhana di kursi, seperti memutar leher, mengangkat bahu, dan melakukan peregangan tubuh bagian atas saat terjebak kemacetan. Cara ini dinilai dapat mengurangi dampak jangka panjang dari duduk terlalu lama dan getaran kendaraan.
Tan mengatakan duduk lama dan paparan getaran mobil dapat berkaitan dengan dampak negatif, seperti kerusakan saraf, degenerasi tulang belakang, kehilangan keseimbangan, serta kerusakan pembuluh darah di lengan dan tangan. Ia juga menyarankan penyesuaian kursi agar postur lebih ergonomis untuk membantu mengurangi ketegangan pada otot dan rangka.

