Tiga pemuda asal Kalimantan Barat, Febri, Raffi, dan Shezi, menghadirkan upaya mendorong transformasi digital melalui langkah yang dekat dengan keseharian masyarakat. Mereka memadukan pengenalan kuliner tradisional dengan pembiasaan transaksi non-tunai menggunakan QRIS, sebagai cara sederhana untuk mendukung pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) beradaptasi di era digital.
Dari gagasan tersebut, ketiganya membentuk Tim Jejak Kapuas dan masuk sebagai salah satu dari tujuh besar finalis QRIS Jelajah Indonesia 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat. Bagi tim ini, ajang tersebut dimaknai bukan semata kompetisi, melainkan kesempatan memperkenalkan kekayaan kuliner daerah sekaligus mengajak masyarakat lebih akrab dengan transaksi digital yang aman, praktis, dan inklusif.
Nama “Jejak Kapuas” dipilih dengan merujuk pada Sungai Kapuas, yang disebut sebagai sungai terpanjang di Indonesia dan menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Kalimantan Barat. Melalui nama itu, mereka ingin berperan sebagai penghubung antara budaya lokal, kuliner khas daerah, pelaku UMKM, dan pemanfaatan teknologi digital, agar seluruh unsur tersebut tumbuh dalam ekosistem yang saling mendukung.
Semangat tersebut dirangkum dalam tagline “Jejak Kapuas, Scan Aksinya, Jelajah Kulinernya! Nyam! Nyam! Nyam!”. Tim Jejak Kapuas menilai slogan itu sebagai ajakan untuk menikmati ragam kuliner sekaligus membiasakan penggunaan QRIS sebagai bagian dari gaya hidup modern yang dapat membantu perkembangan UMKM.
Ketua Tim Jejak Kapuas, Febri, menekankan bahwa kuliner memiliki nilai lebih dari sekadar cita rasa. Menurutnya, setiap hidangan menyimpan identitas budaya, cerita pelaku usaha, serta semangat untuk bertahan dan berkembang di tengah perubahan.
“Kami percaya kuliner bukan hanya tentang rasa. Di balik setiap hidangan ada budaya, ada cerita, dan ada pelaku UMKM yang terus berjuang. Melalui QRIS Jelajah Indonesia 2026, kami ingin mengajak masyarakat semakin bangga terhadap kuliner lokal sekaligus memahami bahwa digitalisasi seperti QRIS dapat membantu UMKM berkembang dan menjangkau lebih banyak pelanggan,” ujar Febri.
Raffi menambahkan, generasi muda memiliki tanggung jawab menghadirkan edukasi digital melalui cara yang sederhana dan mudah diterima. Ia menilai kuliner dapat menjadi media efektif untuk memperkenalkan manfaat transaksi digital kepada berbagai kalangan.
“Kuliner adalah sesuatu yang dinikmati semua orang. Karena itu, kami ingin menjadikan kuliner sebagai media edukasi. Saat masyarakat datang menikmati makanan khas, mereka juga dapat mengenal manfaat QRIS sebagai sistem pembayaran yang praktis, aman, dan cepat. Dengan cara sederhana seperti ini, kami berharap literasi digital dapat tumbuh bersama kecintaan terhadap kuliner lokal,” jelasnya.
Sementara itu, Shezi berharap langkah Tim Jejak Kapuas dapat menginspirasi lebih banyak anak muda untuk terlibat membangun daerah melalui kontribusi nyata. Ia menilai perubahan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar, melainkan bisa berangkat dari aksi sederhana yang memberi manfaat langsung.
“Kami ingin menunjukkan bahwa anak muda juga bisa menjadi bagian dari perubahan. Bukan hanya dengan ide-ide besar, tetapi melalui aksi nyata yang dekat dengan masyarakat. Jika semakin banyak UMKM yang terbantu, semakin banyak kuliner Kalimantan Barat yang dikenal, dan semakin banyak masyarakat yang nyaman menggunakan pembayaran digital, maka bagi kami itulah keberhasilan yang sesungguhnya,” ungkap Shezi.

