Sebuah survei yang digelar Adidaya Institute mencatat sebagian penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak menghabiskan makanan yang diterima di sekolah. Dari hasil survei itu, 66,5% responden menyatakan anaknya menghabiskan menu MBG yang dibagikan, sementara 33,5% menyebut tidak menghabiskannya.
Direktur Politik dan Demokrasi sekaligus peneliti senior Adidaya Institute, Ahmad Fadli, mengatakan persentase tersebut berasal dari pertanyaan survei: “Apakah anak Ibu, Bapak, Saudara, menghabiskan menu MBG di sekolah?”
Adidaya Institute juga menanyakan tindak lanjut dari siswa yang tidak menghabiskan makanan. Fadli menyebut, dari kelompok yang tidak menghabiskan menu MBG, sebanyak 58,4% membawa pulang makanan ke rumah. Adapun 41,6% sisanya tidak membawa pulang alias meninggalkannya di sekolah.
“Kita tanyakan juga dari yang tadi tidak menghabiskan menu MBG, apakah anaknya membawa menu MBG pulang ke rumah? Kan tadi enggak dihabiskan kan? Ternyata 58,4 persen mengatakan bahwa dia membawa pulang menu MBG,” ujar Fadli.
Survei Adidaya Institute dilakukan secara tatap muka pada 15–21 September 2026 di 38 provinsi. Jumlah responden mencapai 1.240 orang, dengan margin of error 2,78%.
Berdasarkan catatan Harianterbit.com yang merujuk data Kementerian Keuangan, total penerima program MBG pada Agustus 2026 mencapai 57,0 juta orang. Dari jumlah itu, 46,2 juta di antaranya merupakan siswa.
Jika angka 33,5% siswa yang tidak menghabiskan menu MBG dikonversi ke jumlah penerima siswa, maka terdapat sekitar 15,5 juta siswa. Dari kelompok tersebut, survei Adidaya Institute menyebut 13,94% siswa penerima manfaat MBG tidak menghabiskan makanan dan juga tidak membawanya pulang.
Meski tidak dicantumkan dalam survei, angka 13,94% itu kemudian dikonversi menjadi nilai rupiah dengan menggunakan pagu anggaran Rp15.000 per menu per siswa. Dengan perhitungan tersebut, nilai menu yang tidak dihabiskan dan tidak dibawa pulang disebut dapat mencapai Rp21 triliun dalam setahun.
Fadli menilai kebiasaan membawa pulang menu MBG mengindikasikan perlunya evaluasi pelaksanaan program, terutama terkait kesesuaian waktu pembagian dan waktu konsumsi. Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi menunjukkan ketidaksesuaian antara jadwal distribusi makanan dan kebutuhan penerima.
“Kebiasaan membawa pulang menu MBG ini menunjukkan adanya potensi ketidaksesuaian antara waktu pembagian, waktu pemberian makanan dan kebutuhan penerima. Kondisi ini perlu dievaluasi agar MBG benar-benar dikonsumsi pada waktu dan tempat yang dirancang untuk mencapai tujuan gizi,” kata Fadli.
Dalam catatan yang sama, disebutkan pula bahwa MBG yang dibawa pulang diasumsikan akan dimakan di rumah sehingga tidak menjadi sampah. Namun, pada beberapa kasus, menu yang dibawa pulang dilaporkan dapat menyebabkan keracunan karena sudah tidak layak konsumsi dari sisi waktu.