BERITA TERKINI
Strategi Lean-Service dan Pengelolaan Berbasis Data Dinilai Jadi Kunci Ketahanan Bisnis Kuliner

Strategi Lean-Service dan Pengelolaan Berbasis Data Dinilai Jadi Kunci Ketahanan Bisnis Kuliner

Industri kuliner di Asia Tenggara disebut tengah menghadapi tekanan berat pada 2026, dipicu lonjakan biaya bahan baku dan fluktuasi ekonomi global. Kondisi ini membuat banyak pelaku usaha kesulitan bertahan. Di saat yang sama, muncul fenomena “double squeeze”, yakni meningkatnya biaya operasional sekaligus tuntutan konsumen terhadap transparansi, yang mendorong perubahan cara pengelolaan bisnis makanan dan minuman (F&B) dari berbasis intuisi menjadi manajemen berbasis data.

Situasi tersebut menjadi latar pembukaan rangkaian roadshow nasional “F&B Mentoring Day” di Bandung pada Kamis (8/5). Bandung dipilih sebagai kota pembuka karena disebut memiliki ekosistem kuliner terbesar ketiga di Jawa Barat, dengan lebih dari 187.000 unit UMKM aktif.

CEO sekaligus Co-Founder ESB, Gunawan, menyampaikan bahwa 2026 merupakan era Lean-Service. Dalam konsep ini, operasional bisnis diarahkan untuk menghilangkan pemborosan di berbagai lini, mulai dari kebocoran finansial akibat kecurangan hingga penggunaan bahan baku yang tidak terkontrol.

Gunawan menilai margin keuntungan tidak lagi bisa mengandalkan perkiraan. Karena itu, ia mendorong pelaku usaha mengadopsi teknologi terintegrasi agar kesehatan arus kas dapat dipantau secara real-time.

Menurutnya, integrasi teknologi tidak berhenti pada penggunaan mesin kasir digital. Pemanfaatan asisten pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) juga mulai diterapkan untuk memprediksi target penjualan dan mendeteksi potensi kecurangan, sehingga pemilik usaha dapat lebih fokus mengembangkan menu dibanding tersita urusan administratif.

Pergeseran menuju pengelolaan berbasis data turut dirasakan pelaku usaha di Bandung. Pendiri Jabarano Coffee, Arnold Dharmma, menekankan pentingnya sentralisasi data untuk mengelola banyak outlet. Ia menyebut keputusan bisnis tidak lagi didasarkan pada intuisi, sementara pemborosan stok dapat ditekan karena pengendalian barang dilakukan terpusat dan terpantau melalui data.

Pengalaman serupa disampaikan pendiri Kopi Moyan, Didit Helditia dan Meizal Rossi. Dengan memanfaatkan data transaksi, mereka mengidentifikasi pola perilaku pelanggan yang lebih spesifik. Mereka menyebut data menunjukkan 95% transaksi terjadi pada pukul 07.00 hingga 11.00, yang kemudian mendorong ekspansi ke menu brunch dan diklaim meningkatkan kinerja bisnis hingga 25% pada tahun kedua.

Selain pembenahan sistem internal, strategi bertahan di tengah krisis energi global juga dikaitkan dengan optimalisasi bahan baku lokal. Komoditas Jawa Barat seperti rempah dan sayuran dari Lembang dinilai lebih tahan terhadap fluktuasi rantai pasok global dibanding bahan impor.

Di sisi lain, Gunawan menyoroti tantangan besar sektor F&B Indonesia pada aspek Customer Relationship Management (CRM). Ia menilai pelaku usaha masih perlu mengejar ketertinggalan dalam membangun basis pelanggan loyal secara mandiri tanpa bergantung pada diskon besar di platform pihak ketiga.

Transformasi digital yang didorong dalam inisiatif ini disebut diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor dengan mitra strategis, antara lain sektor perbankan (BCA) untuk keamanan transaksi, solusi CRM berbasis AI (GoApp), serta penyedia infrastruktur perangkat keras (IWARE).

Rangkaian kegiatan yang akan berlanjut ke 10 kota di Indonesia ini diharapkan dapat membantu industri F&B bertahan di tengah tekanan ekonomi sekaligus meningkatkan kesehatan finansial dan keberlanjutan bisnis, melalui efisiensi yang disebut bisa mencapai 60% di berbagai lini operasional.