Sebuah tulisan opini menyoroti arah pembangunan yang disebut sejalan dengan agenda Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, dengan menempatkan semangat Original Design Manufacturing (ODM) sebagai wujud kemandirian ekonomi dan industri. ODM digambarkan sebagai pendekatan yang mendorong kemampuan merancang dan memproduksi di dalam negeri, bukan sekadar menjalankan proses produksi.
Dalam tulisan tersebut, ODM diposisikan sebagai sistem kerja yang menempatkan masyarakat sebagai perancang, bukan hanya pelaksana. Gerakan ini disebut berkembang di berbagai sektor, mulai dari industri, pangan, energi, pertahanan, hingga maritim, dan dikaitkan dengan upaya memperkuat kedaulatan ekonomi di tengah arus globalisasi.
Beberapa contoh penerapan ODM yang disebut antara lain ODM Green Carbon di lahan bekas tambang, yang memanfaatkan tanaman seperti bambu, kaliandra, dan nyamplung sebagai sumber bahan karbon hijau, energi bersih, serta bahan baku industri. Di wilayah pesisir, ODM Maritim disebut berfokus pada desain kapal dan logistik buatan lokal untuk mendukung nelayan. Sementara itu, ODM Agro digambarkan mendorong pengelolaan sistem pangan digital yang bertumpu pada data center nasional.
Tulisan tersebut juga menekankan pentingnya pembangunan teknologi, sistem, dan server di dalam negeri. Hal ini disebut dapat menciptakan lapangan kerja sekaligus mendukung perlindungan kedaulatan digital, termasuk dengan mengurangi ketergantungan pada lisensi perangkat lunak luar negeri dan penyimpanan data di cloud asing.
Selain aspek teknologi dan industri, ODM dipaparkan sebagai pendekatan pembangunan yang menekankan pemulihan, seperti memanfaatkan lahan rusak menjadi sumber energi hijau, menghidupkan desa sebagai pusat produksi, serta menjadikan masyarakat di wilayah pinggiran sebagai penggerak ekonomi.
Di bagian penutup, tulisan opini itu mengaitkan momentum ulang tahun Presiden Prabowo dengan harapan bahwa arah kebijakan yang ditetapkan melalui Asta Cita dapat diwujudkan melalui gerakan ODM. Penulis menggambarkan pergeseran peran masyarakat—petani, nelayan, hingga pemuda desa—dari sekadar penonton menjadi pelaku dalam proses pembangunan.

